A. Arti Penting Media Massa
Menurut John Vivian media massa diaanggap sebagai sumber berita dan hiburan, media massa juga membawa pesan persuasi.
1. Jangkauan media massa yang luas
2. Sumber informasi
3. Sumber hiburan
4. Forum persuasi
B. Kultur dan Nilai
Secara hostoris, perlakuan media massa terhadap isu-isu yang penting ikut membentuk menciptakan sebuah konsensus baru.
1. Media sebagai perekat
2. 500 channel universe
- komunikasi satelit
- pesan digital
- internet
C. Macam Media Massa Utama
1. Teknologi cetak (buku-surat kabar)
2. Teknologi kimia (fotografi-film)
3. Teknologi elektronik (rekam suara dan gambar)
4. Perpaduan teknologi
a. Integrasi teknologi cetak-visual
b. Integrasi digital
D. Mainstream Media dan Media Baru
1. Kepemilikan
2. Teknologi
3. Media alternatif
4. Media bawah tanah
4. High-Tech media
E. Model-model Media Massa
1. Model hot-cool
2. Model hiburan-informasi
3. Model isi-distribusi
4. Model elitis-populis
F. Ekonomi Media Massa
1. Landasan ekonomi
a. penerimaan iklan
b. pendapatan sirkulasi
c. sumbangan audiens
d. dukungan privat
e. subsidi pemerintah
f. iklan pemerintah
2. Kepentingan ekonomi
3. Demasifikasi (segmentasi audiens)
G. Konglomerasi Media
1. Konsolidasi kepemilikan media
2. Kolaborasi kepemilikan media
3. Efek dubious dari konglomerasi
4. Efek positif dari konglomerasi
5. Keretakan konglomerasi
TUGAS
Selasa, 11 Mei 2010
Sabtu, 01 Mei 2010
soal komunikasi massa
pertemuan 1
1. Media mempunyai fungsi penting (Danish McQuail) dengan asumsi:
Kewajiban media terhadap pola pikir manusia untuk mempertahankan hidupnya
Media merupakan industri yang berubah dan berkembang yang menciptakan lapangan kerja, barang dan jasa serta menghidupkan industri lainnya yang memiliki aturan dan norma-norma yang menghubungkan istitusi tersebut dengan masyarakat dan isntitusi sosial lainnya.
Media memperkerjakan banyak karyawan dengan gaji yang besar
Media merupakan perusahaan perorangan untuk membantu kebutuhan publik
2. (Empat) teori yang berkenaan dengan komunikasi massa menurut Danish McQuail, kecuali:
a. Teori ilmu pengetahuan sosial
b. Teori agenda-setting.
c. Teori praktis
d. Teori normatif
3. Melvin deFleur (1996) dalam bukunya Theories of Mass Communication mengembangkan dan mengaplikasikan teori …………………. ke dalam teori komunikasi massa
a. Psikologi
b. Transmisional.
c. Antropologi
d. sosiologi
4. (Empat) teori yang berkenaan dengan komunikasi massa menurut Danish McQuail, Istilah lain teori akal sehat adalah:
a. Teori luingistik
b. Commonsense theory.
c. Teori peluru
d. Teori psikonalisis
5. Dengan mendasarkan pada prinsip keseimbangan kognitif yang dikemukakan oleh Heider 91946) dan penerapannya oleh Newcomb (1953) pada keseimbangan antara dua individu dalam proses komunikasi ketika menanggapi suatu topik tertentu, disebut dengan pendekatan ……….
a. Psikologi terapan
b. Psikologis sosial.
c. Psikologi komunikasi
d. Psikologi luingistik
PERTEMUAN 2
1. Pengertian komunikasi massa terutama dipengaruhi oleh kemampuan media massa untuk membuat produksi massal dan untuk menjangkau khalayak dalam jumlah besar. Disamping itu ada pula makna lain yang dianggap makna asli–dari kata massa, yakni suatu makna yang mengacu pada kolektivitas tanpa bentuk, yang komponen-komponenya sulit dibedakan satu sama lain. Pengertian ini dinyatakan oleh:
a. Laswell
b. Rothstein
c. Denis McQuail.
d. John Merill
2. Peran media yang menjelaskan dan memberikan makna terhadap peristiwa atau hal yang terpisah dan kurang jelas. Dari pengertian tersebut berarti media berperan sebagai
a. Jendela
b. Jaringan interaktif
c. Juru bahasa.
d. Cermin
3. Aliran Frankfurt atau disebut juga dengan aliran ……………………... Para ahli teori kritik yang dewasa ini menganut pendekatan yang disebut pendekatan ‘budaya’ (culturalist).
a. Positivisme
b. Logika
c. Marxis ketiga.
d. psikologikal
4. Teori yang mengemukakan ketergantungan ideologi pada kekuatan ekonomi dan mengarahkan perhatian pada struktur pemilikan dan mekanisme kerja kekuatan pasar media, disebut sebagai teori :
a. Media barat
b. Media elektronik
c. Media politik-ekonomi.
d. Media psikologi-politik
5. Pembahasan teori fungsionalis-struktural ini meliputi, kecuali:
a. Fungsi utama media massa bagi masyarakat
b. Fungsionalisme individual
c. Fungsi menyebarluaskan informasi kepada negara lain.
d. Fungsi dan disfungsi
PERTEMUAN 3
1. Aspek Utama Masyarakat, kecuali
Kekuasaan
Integrasi
Perubahan
Pemerintahan.
2. Proses yang dijalankan oleh Aparat Represif Negara (Represive state Apparatuses). Aparat ideologi negara tersebut memungkinkan negara kapitalis mempertahankan keberadaanya tanpa memalukan kekerasan secara langsung. Pernyataan ini menurut ……….
a. John Vivian
b. Leon Mann
c. Truman
d. Louis Althusser.
3. Konsep hegemoni , mengandung pengertian suatu kebudayaan atau ideologi yang berlaku dimana-mana dan secara internal bersifat kosisten, serta sesuai dengan kepentingan kelas dominan atau kelas elit. Konsep tersebut dinyatakan oleh:
a. Leon Mann
b. Truman
c. Louis Althusser
d. Gramsci.
4. Teori yang mengandung konsensus ideologi (kesadaran palsu) ialah teori …….
a. Psikologi komunikasi
b. Sosiologi komunikasi
c. Media komunikasi
d. Marxis dan Integrasi.
5. Aliran yang memandang masyarakat sebagai suatu arena persaaingan kelompok dan kepentingan; tidak ada satu pun kelompok yang dapat memiliki dominasi untuk selama-lamanya. Disebut aliran ……..
a. Aliran media Barat
b. Aliran Media Timur
c. Aliran psikoteraphy
d. Aliran pluralis.
PERTEMUAN 4
1. Berikut ini yang termasuk enam ragam teori normatif, kecuali:
a. Teori komoditas budaya.
b. Teori pers bebas
c. Teori tanggung jawab sosial
d. Teori media soviet
2. Teori otoriter, pers bebas, tanggung jawab sosial, media soviet, media pembangunan dan media demokratik-pertisipan disebut ragam teori:
a. Teori normatif.
b. Teori filsafat
c. Teori ideologi
d. Teori sosial
3. Kriteria Penilaian Penampilan Media, kecuali:
a. Kebebasan dan musyawarah.
b. Keterlibatan dan solideritas
c. Keanekaragaman dan akses
d. Objektivitas dan kualitas informasi
4. Beberapa kondisi yang diperlukan bagi pengembangan komunikasi massa, kecuali:
a. Struktur organisasi media.
b. Keterampilan profesional
c. Sumber daya produksi dan budaya
d. Audiens yang tersedia.
5. Teori ini menggabungkan prinsip kebebasan dan pilihan individual, kebebasan media, kewajiban media terhadap masyarakat. Disebut dengan …….
a. Teori tanggung jawab sosial.
b. Teori media lepas
c. Teori jurnalisme
d. Teori tanggung jawab moral
PERTEMUAN 5
Istilah komunikator massa dikenal sejak tahun……………
a. 1929
b. 1919
c. 1949
d. 1939.
2. Ragam utama definisi media institusi adalah, kecuali:
a. Tipe Media (standar media-media)
b. Skala dan jangkauan operasi (nasional, internasioanal, lokal)
c. Kewajiban kerja atau fungsi (produksi)
d. Benturan budaya.
3. Kegiatan Organisasi media sebagai penjaga gerbang (getkeeper) meliputi…………..kecuali:
a. Penjagaan gerbang
b.Tokoh dan seleksi
c. Lokasi dan seleksi
d. Pemberitaan kriminal.
4. Berikut ini yang bukan termasuk teori tentang penyimpangan realitas adalah:
a. Teori fungsional
b. Teori hegemoni
c. Teori organisasi
d. Teori media online.
5. Tujuan Analisis Isi meliputi, kecuali:
a. Isi seperti yang dikirim dan diterima
b. Pelacakan dampak
c. Isi sebagai bukti komunikator
d. Pelukisan modal persahaan.
PERTEMUAN 6
1. Berikut ini yang bukan termasuk konsep Alternatif tentang Audiens adalah:
a. Khalayak ramai.
b. Audiens sebagai massa
c. Audiens sebagai publik atau kelompok sosial
d. Audiens sebagai pasar
2. Kelompok atau publik, kelompok kepuasan, kelompok penggemar (budaya cita rasa), audiens medium. Termasuk ke dalam jenis ……
a. Tipologi Formasi Audiens.
b. Tipologi khalayak ramai
c. Tipologi riset khalayak
d. Tipologi sosial khalayak
3. Penelitian dampak media dewasa ini ke arah ………….., kecuali:
a. Fungsi lembaga pemerintahan.
b. Perubahan jangka panjang
c. Kognisi, sikap dan afeksi
d. Peran yang dimainkan oleh isi
4. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam model S-R (stimuli-respons), kecuali:
a. Peran isi.
b. Kondisi yang menegahi
c. Hubungan sumber-penerima
d. reaksi yang tidak diinginkan
5. Tingkat dan jenis dampak media menurut Klapper (1960), kecuali:
a. Ideologi Marxis.
b. Konversi (maksud komunikator)
c. Perubahan kecil (perubahan bentuk ataau intensitas penegasan oleh penerima
d. Penguatan (keyakinan opini sendiri)
1. Media mempunyai fungsi penting (Danish McQuail) dengan asumsi:
Kewajiban media terhadap pola pikir manusia untuk mempertahankan hidupnya
Media merupakan industri yang berubah dan berkembang yang menciptakan lapangan kerja, barang dan jasa serta menghidupkan industri lainnya yang memiliki aturan dan norma-norma yang menghubungkan istitusi tersebut dengan masyarakat dan isntitusi sosial lainnya.
Media memperkerjakan banyak karyawan dengan gaji yang besar
Media merupakan perusahaan perorangan untuk membantu kebutuhan publik
2. (Empat) teori yang berkenaan dengan komunikasi massa menurut Danish McQuail, kecuali:
a. Teori ilmu pengetahuan sosial
b. Teori agenda-setting.
c. Teori praktis
d. Teori normatif
3. Melvin deFleur (1996) dalam bukunya Theories of Mass Communication mengembangkan dan mengaplikasikan teori …………………. ke dalam teori komunikasi massa
a. Psikologi
b. Transmisional.
c. Antropologi
d. sosiologi
4. (Empat) teori yang berkenaan dengan komunikasi massa menurut Danish McQuail, Istilah lain teori akal sehat adalah:
a. Teori luingistik
b. Commonsense theory.
c. Teori peluru
d. Teori psikonalisis
5. Dengan mendasarkan pada prinsip keseimbangan kognitif yang dikemukakan oleh Heider 91946) dan penerapannya oleh Newcomb (1953) pada keseimbangan antara dua individu dalam proses komunikasi ketika menanggapi suatu topik tertentu, disebut dengan pendekatan ……….
a. Psikologi terapan
b. Psikologis sosial.
c. Psikologi komunikasi
d. Psikologi luingistik
PERTEMUAN 2
1. Pengertian komunikasi massa terutama dipengaruhi oleh kemampuan media massa untuk membuat produksi massal dan untuk menjangkau khalayak dalam jumlah besar. Disamping itu ada pula makna lain yang dianggap makna asli–dari kata massa, yakni suatu makna yang mengacu pada kolektivitas tanpa bentuk, yang komponen-komponenya sulit dibedakan satu sama lain. Pengertian ini dinyatakan oleh:
a. Laswell
b. Rothstein
c. Denis McQuail.
d. John Merill
2. Peran media yang menjelaskan dan memberikan makna terhadap peristiwa atau hal yang terpisah dan kurang jelas. Dari pengertian tersebut berarti media berperan sebagai
a. Jendela
b. Jaringan interaktif
c. Juru bahasa.
d. Cermin
3. Aliran Frankfurt atau disebut juga dengan aliran ……………………... Para ahli teori kritik yang dewasa ini menganut pendekatan yang disebut pendekatan ‘budaya’ (culturalist).
a. Positivisme
b. Logika
c. Marxis ketiga.
d. psikologikal
4. Teori yang mengemukakan ketergantungan ideologi pada kekuatan ekonomi dan mengarahkan perhatian pada struktur pemilikan dan mekanisme kerja kekuatan pasar media, disebut sebagai teori :
a. Media barat
b. Media elektronik
c. Media politik-ekonomi.
d. Media psikologi-politik
5. Pembahasan teori fungsionalis-struktural ini meliputi, kecuali:
a. Fungsi utama media massa bagi masyarakat
b. Fungsionalisme individual
c. Fungsi menyebarluaskan informasi kepada negara lain.
d. Fungsi dan disfungsi
PERTEMUAN 3
1. Aspek Utama Masyarakat, kecuali
Kekuasaan
Integrasi
Perubahan
Pemerintahan.
2. Proses yang dijalankan oleh Aparat Represif Negara (Represive state Apparatuses). Aparat ideologi negara tersebut memungkinkan negara kapitalis mempertahankan keberadaanya tanpa memalukan kekerasan secara langsung. Pernyataan ini menurut ……….
a. John Vivian
b. Leon Mann
c. Truman
d. Louis Althusser.
3. Konsep hegemoni , mengandung pengertian suatu kebudayaan atau ideologi yang berlaku dimana-mana dan secara internal bersifat kosisten, serta sesuai dengan kepentingan kelas dominan atau kelas elit. Konsep tersebut dinyatakan oleh:
a. Leon Mann
b. Truman
c. Louis Althusser
d. Gramsci.
4. Teori yang mengandung konsensus ideologi (kesadaran palsu) ialah teori …….
a. Psikologi komunikasi
b. Sosiologi komunikasi
c. Media komunikasi
d. Marxis dan Integrasi.
5. Aliran yang memandang masyarakat sebagai suatu arena persaaingan kelompok dan kepentingan; tidak ada satu pun kelompok yang dapat memiliki dominasi untuk selama-lamanya. Disebut aliran ……..
a. Aliran media Barat
b. Aliran Media Timur
c. Aliran psikoteraphy
d. Aliran pluralis.
PERTEMUAN 4
1. Berikut ini yang termasuk enam ragam teori normatif, kecuali:
a. Teori komoditas budaya.
b. Teori pers bebas
c. Teori tanggung jawab sosial
d. Teori media soviet
2. Teori otoriter, pers bebas, tanggung jawab sosial, media soviet, media pembangunan dan media demokratik-pertisipan disebut ragam teori:
a. Teori normatif.
b. Teori filsafat
c. Teori ideologi
d. Teori sosial
3. Kriteria Penilaian Penampilan Media, kecuali:
a. Kebebasan dan musyawarah.
b. Keterlibatan dan solideritas
c. Keanekaragaman dan akses
d. Objektivitas dan kualitas informasi
4. Beberapa kondisi yang diperlukan bagi pengembangan komunikasi massa, kecuali:
a. Struktur organisasi media.
b. Keterampilan profesional
c. Sumber daya produksi dan budaya
d. Audiens yang tersedia.
5. Teori ini menggabungkan prinsip kebebasan dan pilihan individual, kebebasan media, kewajiban media terhadap masyarakat. Disebut dengan …….
a. Teori tanggung jawab sosial.
b. Teori media lepas
c. Teori jurnalisme
d. Teori tanggung jawab moral
PERTEMUAN 5
Istilah komunikator massa dikenal sejak tahun……………
a. 1929
b. 1919
c. 1949
d. 1939.
2. Ragam utama definisi media institusi adalah, kecuali:
a. Tipe Media (standar media-media)
b. Skala dan jangkauan operasi (nasional, internasioanal, lokal)
c. Kewajiban kerja atau fungsi (produksi)
d. Benturan budaya.
3. Kegiatan Organisasi media sebagai penjaga gerbang (getkeeper) meliputi…………..kecuali:
a. Penjagaan gerbang
b.Tokoh dan seleksi
c. Lokasi dan seleksi
d. Pemberitaan kriminal.
4. Berikut ini yang bukan termasuk teori tentang penyimpangan realitas adalah:
a. Teori fungsional
b. Teori hegemoni
c. Teori organisasi
d. Teori media online.
5. Tujuan Analisis Isi meliputi, kecuali:
a. Isi seperti yang dikirim dan diterima
b. Pelacakan dampak
c. Isi sebagai bukti komunikator
d. Pelukisan modal persahaan.
PERTEMUAN 6
1. Berikut ini yang bukan termasuk konsep Alternatif tentang Audiens adalah:
a. Khalayak ramai.
b. Audiens sebagai massa
c. Audiens sebagai publik atau kelompok sosial
d. Audiens sebagai pasar
2. Kelompok atau publik, kelompok kepuasan, kelompok penggemar (budaya cita rasa), audiens medium. Termasuk ke dalam jenis ……
a. Tipologi Formasi Audiens.
b. Tipologi khalayak ramai
c. Tipologi riset khalayak
d. Tipologi sosial khalayak
3. Penelitian dampak media dewasa ini ke arah ………….., kecuali:
a. Fungsi lembaga pemerintahan.
b. Perubahan jangka panjang
c. Kognisi, sikap dan afeksi
d. Peran yang dimainkan oleh isi
4. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam model S-R (stimuli-respons), kecuali:
a. Peran isi.
b. Kondisi yang menegahi
c. Hubungan sumber-penerima
d. reaksi yang tidak diinginkan
5. Tingkat dan jenis dampak media menurut Klapper (1960), kecuali:
a. Ideologi Marxis.
b. Konversi (maksud komunikator)
c. Perubahan kecil (perubahan bentuk ataau intensitas penegasan oleh penerima
d. Penguatan (keyakinan opini sendiri)
Pertemuan 1
PENGERTIAN KOMUNIKASI
MASSA DAN DEFINISI MEDIA BARU
KOMUNIKASI MASSA SEBAGAI SUATU OBJEK ILMU
Media mempunyai fungsi penting (Danish McQuail) dengan asumsi:
1. Media merupakan industri yang berubah dan berkembang yang menciptakan lapangan kerja, barang dan jasa serta menghidupkan industri lainnya yang memiliki aturan dan norma-norma yang menghubungkan istitusi tersebut dengan masyarakat dan isntitusi sosial lainnya.
2. Media massa merupakan sumber kekuatan – alat kontrol, manajemen dan inovasi dalam masyarakat yang dapat didayagunakan sebagai pengganti kekuatan sumber daya lainnya.
3. Media merupakan lokasi (forum) yang semakin berperan, untuk menampilkan peristiwa-peristiwa kehidupan masyarakat, baik yang bertaraf nasional maupun internasional.
4. Media seringkali berperan sebagai wahana pengembangan kebudayaan, bukan saja dalam pengertian pengembangan bentuk seni dan simbol, tetapi juga dalam pengertian pengembangan tata cara, mode, gaya hidup dan norma-norma.
5. 5. Media telah menjadi sumber dominan bukan saja bagi individu untuk memperoleh gambaran dan citra realitas sosial, tetapi juga bagi masyarakat dan kelompok secara kolektif; media menyuguhkan nilai-nilai dan penilaian normatif yang dibaurakan dengan berita dan hiburan
4 (empat) teori yang berkenaan dengan komunikasi massa menurut Danish McQuail:
1. Teori ilmu pengetahuan sosial
2. Teori normatif
3. Teori praktis
4. Teori akal sehat (commonsense theory)
KONSEP KOMUNIKASI MASSA
Menurut Werner J. Severin – James W. Tankard, Jr komunikasi massa disefinisikan sebagai berikut:
1. Komunikasi massa diarahkan kepada audiens yang relatif besar, heterogen, dan anonim.
2. Pesan-pesan yang disebarkan secara umum, sering dijadwalkan untuk bisa mencapai sebanyak mungkin anggota audiens secara serempak dan sifatnya sementara.
3. Komunikator cenderung berada atau beroperasi dalam sebuah organisasi yang kompleks yang mungkin membutuhkan biaya yang besar .
Menurut Sasa Djuarsa Senjaya teori-teori mengenai komunikasi massa lahir melalui berbagai penelitian yang didorong oleh perhatian terhadap politik terhadap media surat kabar. Berikut ini teori yang cukup berpengaruh bagi perkembangan komunikasi massa adalah:
1. Formula Laswell
Formulasi proses komunikasi massa menurut Laswell:
a. siapa (Who)
b. Berkata apa (Says What)
c. Melalui Saluran apa (In Which Channel)
d. Kepada siapa (To Whom)
e. Dengan efek apa (With What Affect)
2. Pendekatan transmisional
Walaupun prinsip teknologi pasti (matematis) berbeda dari proses komunikasi manusia, namun teori yang dikemukan Shannon Weaver telah menjadi ide dasar bagi banyak teori komunikasi massa.
Melvin deFleur (1996) dalam bukunya Theories of Mass Communication mengembangkan dan mengaplikasikan teori transmisional ke dalam teori komunikasi massa.
3. Pendekatan Psikologi Sosial
Dengan mendasarkan pada prinsip keseimbangan kognitif yang dikemukakan oleh Heider (1946) dan penerapannya oleh Newcomb (1953) pada keseimbangan antara dua individu dalam proses komunikasi ketika menanggapi suatu topik tertentu.
Media Baru
Inovasi bukanlah hal baru bagi media massa, Beadle Brotheers yang memperkenalkan novel buram sebelum perang sipil adalah media baru pada zamannya. Stasiun radio yang hanya melayani lingkungan sekitarnya disebut dengan media alternatif, dengan transmiter berdaya rendah. Pers anti kemapanan di era 1970-an adalah salah satu media baru, yang didistribusikan secara geratis, penekanannya ialah hiburan lokal. Sementara high-tech Media, penciptaan teknologi dengan cybercafe, Wi-Fi blogger internet dan jurnalimse publik secara on-line dewasa ini.
PERTEMUAN 2
Konsep Dan Definisi Komunikasi Massa
Teori Media Dan Teori Masyarakat
Konsep Massa
Kata kunci ‘Massa’ dalam bidang ilmu pengetahuan sosial kata massa dahulu (bahkan sampai sekarang) mengandung makna positif dan negatif yang kuat. Makna negatifnya menurut sejarah, berasal dari pemakaian kata dalam kaitannya dengan kerumunan (mob) atau orang banyak, khususnya dalam dalam pengertian sejumlah orang yang tidak teratur dan bebal. Dalam konteks seperti itu, kata tersebut mengandung arti tidak memiliki budaya, kecakapan, dan bahkan rassionalitas.
Di lain pihak, pengertian positifnya (terutama dalam tradisi sosialis) mengandung konotasi kekuatan dan solideritas di kalangan kelas pekerja biasa. Kekuatan dan solideritas tersebut muncul manakala para pekerja itu diarahkan untuk mencapai tujuan kolektif. Dalam konteks yang menilai kuantitas sebagai sesuatu hal yang positif, misalnya kaitannya dengan istilah ‘dukungan massa’, ‘gerakan massa’ , ‘aksi massa’ dan lain-lain.
Pengertian komunikasi massa (Denis Mcquail) terutama dipengaruhi oleh kemampuan media massa untuk membuat produksi massal dan untuk menjangkau khalayak dalam jumlah besar. Disamping itu ada pula makna lain yang dianggap makna asli – dari kata massa, yakni suatu makna yang mengacu pada kolektivitas tanpa bentuk, yang komponen-komponenya sulit dibedakan satu sama lain.
Selanjutnya McQuail mengatakan bahwa dalam kamus bahasa Inggris memberikan definiisi “massa” sebagai ‘ suatu kumpulan orang banyak yang tidak mengenal keberadaan individualitas’. Definisi ini hampir menyerupai pengertian massa yang digunakan oleh para sosiologi, khususnya bila dipaakai dalam kaiatanya dengan khalayak media.
Tipe kolektivitas
Herbert Blumer (1939) membuat definisi massa dengan membandingkan istilah tersebut dengan bentuk kolektivitas lainnya yang kita temukan dalam kehidupan sosial, khususnya ‘kelompok’, ‘kerumunan’, dan ‘publik’
Khalayak Sebagai Massa
Istilah ‘massa’ mencakup beberapa unsur khalayak radio dan sinema (film) yang tidak saling dikaitkan oleh salah satu dai ketiga konsep yang ada (kelompok, publik, kerumunan). Massa seringkali sangat besar – lebih besar dari kebanyakan kelompok, kerumunan atau publik. Para anggotanya tersebar luas dan biasanya tidak saling mengenal satu sama lain, termassuk orang yang menyebbabkan lahirnya khalayak itu. Para anggotanya bersifat heterogen dan banyak sekali jumlahnya, serta berasal dari semua lapisan sosial dan kelompok demografis.
Khalayak media massa bukanlah satu-satunya formasi sosial yang dapat digambarkan dengan cara di tasa, karena kata massa kadang kala dipakai untuk menyebutkan para konsumen di pasar massal atau sejumlah besar pemilih (massa pemberi suara). Kumpulan manusia semacam ini seringkali ada hubungannya dengan pengertian khalayak. Media massa digunakan untuk mengarahkan atau mengendalikan ‘perilaku konsumen’ dan perilaku politik sejumlah besar pemilih
Ciri-Ciri Utama Komunikasi Massa
1. Sumber komunikasi massa, bukanlah satu orang, melainkan suatu organisasi formal.
2. Sang pengirimnya (komunikator) seringkali merupakan komunikator profesional.
3. Pesannya tidak unik dan beraneka ragam serta dapat diperkirakan. Disamping itu pesan tersebut diproses, distaandarisasi, dan selalu diperbanyak.
4. Pesan merupakan suatu produk dan komoditi yang mempunyai nilai tukar, serta acuan simbolik yang mengandung nilai kegunaan.
5. Hubungan antara pengirim dan penerrima bersifat satu arah dan jarang sekali bersifat interaktif. Hubungan tersebut bersifat impersonal, non-moral dan kalkulatif (sang pengirim pesan tidak bertanggung jawab atas konsekuensi yang terjadi)
TEORI MEDIA DAN TEORI MASYARAKAT
Komunikasi Massa Sebagai Proses Masyarakat
Beberapa asumsi dasar yang melatarbelakangi kerangka teori komunikasi massa ialah:
1. Istitusi media menyelanggarakan produksi, reprodukksi dan distribusi pengetahuan dalam pengertian serangkaian simbol yang mengandung acuan makna tentang pengalaman dalam kehidupan sosial.
a. media massa memiliki fungsi pengantar (pembawa) bagi segenap macam pengetahuan.
b. Media massa menyelenggarakan kegiatannya dalam lingkungan publik, pada dasarnya media massa dapat dijangkau oleh segenap anggota masyarakat secara bebas, suka rela, umum dan murah.
c. Hubungan antara pengirim dengan penerima seimbang dan sama
d. Media menjangkau lebih banyak orang dari pada istitusi lainnya dan mengambil alih peran sekolah, orang tua, agama dan lain-lain.
2. Media massa memiliki peran mediasi (penengah/penghubung) antara realitas sosial yang objektif dengan pengalaman pribadi. Media berperan sebagai:
a. Jendela pengalaman yang meluaskan pandangan kita dan memungkinkan kita mampu memahami apa yang terjadi di sekitar diri kita, tanpa campur tangan pihak lain atau sikap memihak.
b. Juru bahasa yang menjelaskan dan memberikan makna terhadap peristiwa atau hal yang terpisah dan kurang jelas.
c. Pembawa atau pengantar informasi dan pendapat.
d. Jaringan interaktif yang menghubungkan pengirim dengan penerima melalui berbagai macam umpan balik.
e. Papan penunjuk jalan yang secara aktif menunjukan arah, memberikan bimbingan atau instruksi.
f. Penyaring yang memilih bagian pengalaman yang perlu diberi perhatian khusus daan menyisihkan aspek pengalaman lain, baik secara sadar dan sistematis maupun tidak.
g. Cermin yang memantulkkan citra masyarakat terhadap masyaraakat itu sendiri.
h. Tirai atau penutup yang menutupi kebenaran demi pencapaian tujuan propaganda atau pelarian dari suatu kenyataan (escapism).
Teori Masyarakat Massa
Beberapa Pandangan Aliran dan Teori:
1. Marxisme (pandangan klasik)
Marx mengenal pers sebelum pers berfungsi sepenuhnya sebagai media massa. Marx mengatakan bahwa media merupakan alat produksi yang disesuaikan dengan tipe umum industri kapitalis beserta faktor produksi dan hubungan produksinya. Media cenderung dimonopoli oleh kelas kapitalis, yang penangannya dilaksanakan baik secara nasional maupun internasional untuk memenuhi kepentingan kelas tersebut.
2. Teori media politik-ekonomi
Teori media politik-ekonomi merupakan nama lain yang dihidupkan kembali untuk digunakan dalam menyebutkan sebuah pendekatan yang memusatkan perhatian lebih banyak pada struktur ekonomi daripada muatan (isi) ideologis media. Teori ini mengemukakan ketergantungan ideologi pada kekuatan ekonomi dan mengarahkan perhatian pada struktur pemilikan dan mekanisme kerja kekuatan pasar media.
3. Aliran Frankfurt (teori kritik)
Aliran Frankfurt atau disebut juga dengan aliran Marxis ketiga. Para ahli teori kritik yang dewasa ini menganut pendekatan yang disebut pendekatan ‘budaya’ (culturalist). Mracuse menggunakan istilah masyarakat ‘satu-dimensi’ untuk menyebutkan masyarakat yang lahir dari dukungan ‘budaya industri’. Penekanan maslah yang oleh aliran ini ditujukan pada media sebagai suatu mekanisme ampuh yang mampu mengarahkan perrubahan.
4. Teori Hegemoni Media
Istilah hegemoni dipinjam dari Gramsci (1971) untuk menyebut ideologi penguasa. Teori ini kurang memusatkan perhatian pada faktor ekonomi dan struktur ideologi yang mengunggulkan kelas tertentu, tetapi lebih menekankan ideologi itu sendiri, bentuk ekspresi, cara penerapan, dan mekanisme yang dijalankan untuk mempertahankan dan mengembangkan diri melalui kepatuhan para korbannya (terutama kelas pekerja).
5. Teori Sosial-budaya
Pendekatan budaya atau ‘sosial-budaya’ berpengaruh dalam studi media massa, pendekatan ini berupaya mendalami pesan dan publik melalui pemahaman pengalaman sosial berbagai kelompok kecil masyarakat secara cermat, kritis dan terarah, dengan tujuan agar dapat memberikan penjelasan menyangkut pola pilihan dan reaksi terhadap media
6. Pendekatan fungsionalis struktural
Sebuah teori sosiologi yang menjelaskan berbagai kegiatan yang melembaga (institutionalized) dalam kaitannya dengan ‘kebutuhan’ masyarakat. Merton, 1957. kebutuhan yang dimaksudkan, bila dihubungkan dengan institusi media, terutama berkenaan dengan kesinambungan, ketertiban, integrasi, motivasi, pengarahan (bimbingan) dan adaptasi.
Pembahasan teori ini meliputi:
a. Fungsi utama media massa bagi masyarakat
b. Fungsionalisme individual
c. Fungsi dan disfungsi
PERTEMUAN 3
Penerapan Teori Media: Kekuasaan, Integrasi Dan Perubahan Sosial
Aspek Utama Masyarakat
1. Kekuasaan
2. Integrasi
3. Perubahan
A. MASALAH KEKUASAAN
Menurut Denis McQuail, karena media bergerak dalam masyarakat yang ditandai oleh adanya penyebar kekuasaan, yang diberikan kepada individu, kelompok dan kelas sosial secara tidak merata, dan karena dalam beberapa hal media berkaitan dengan struktur politik dan ekonomi yang berlaku, maka ada beberapa masalah yang perlu disinggung menyangkut keberradaanya. Antara lain:
1. Media memiliki konsekuensi dan nilai ekonomi, serta merupakan objek persaingan untuk memperebutkan kontrol dan akses. Disamping itu media juga tidak terlepas dari peraturan poliitik, ekonomi, dan hukum.
2. Media massa sering kali dipandang sebagai alat kekuasaan yang efektif karena kemampuannya untuk melakukan salah satu (atau lebih) dan beberapa hal, sebagai berikut:
a. Menarik dan mengarahkan perhatian
b. Membujuk pendapat dan anggapan
c. Mempengaruhi pilihan sikap
d. Memberikan status dan legitimasi
e. Mendefinisikan dan membentuk persepsi realitas
Dari pernyataan diatas maka muncul pertanyaan:
Siapa yang mengendalikan media?
Siapa yang memiliki akses thp media?
Realitas sosial siapa yang disajikan?
Sejauh mana efektivitas media?
Faktor-faktor kekuasaan apa?
I. Teori Masyarakat Massa dan Kekuasaan
Teori ini memberikan gambaran mengenai keberadaan dan kadar kekuasaan media dalam masyarakat yang ditandai oleh luasnya jangkauan, keterpencilan institusi, isolasi individu, dan kurangnya integrasi kelompok setempat. Kenyataan ini menunjukan bahwa
“media dapat dikendalikan atau dikelola secara monopolistik untuk dijadikan sebagai alat utama yang efektif dalam mengorganisassi massa (kelompok khalayak, konsummen, pasar, dan pemilih)”
Media massa biasanya merupakan corong penguasa, pemberi pendapat dan intruksi, serta kepuasan jiwa. Media bukan saja membentuk dependensi warga masyarakat terhadap media dalam hal penciptaan pendapat, tetapi juga dalam hal penciptaan identitas dan kesadaran. Menurut C.W Mills (1956) potensi yang diciptakan media diarahkan untuk pengendalian nondemokratis yang berasal dari atas.
II. Teori Marxis dan Kekuasaan
Marxis dan interpretasi Marxis tentang -media selalu menekankan kenyataan bahwa media massa pada hakikatnya merupakan alat kontrol kelas penguasa kapitalis.----- Media komunikassi (misal: surat kabar) cenderung dimiliki oleh para anggota kelas berada yang diharapkan mampu untuk menjalankan media tersebut demi kepentingan kelasnya. Artinya, terdapat hubungan langsung antara pemilikkan kekuatan ekonomi dengan penyebaran pesan yang menegaskan legitimasi kekuatan ekonnomi dan niali-nilai suatu kelas dalam masyarakat.
Louis Althusser (1971) menyebut sebagai proses yang dijalankan oleh Aparat Represif Negara (Represive state Apparatuses). Aparat ideologi negara tersebut memungkinkan negara kaapitalis mempertahankan keberadaanya tanpa memalukan kekerasan secara langsung. Konsep hegemoni Gramsci (1971) mengandung pengertian suatu kebudayaan atau ideologi yang berlaku dimana-mana dan secara internal bersifat kosisten, serta sesuai dengan kepentingan kelas dominan atau kelas elit.
Mercuse (1964) menilai media beserta segenap unsur sistem produksi masalnya, terlibat dalam ‘penjualan’ dan pemaksaan segenap aspek sistem sosial yang pada waaktu bersamaan bersifat represif, tetapi dapat disenangi orang. Sumbangsih utama media berwujud perangsangan ‘kebutuhan semu’ dan pemberian kepuasan terhadap kebutuhan tersebut, yang mengarah keterciptaannya assimilasi berbagai kelompok yang tidak memiliki persamaan kepentingan material nyata, demi terwujudnya ‘masyarakat berdimensi tunggal’.
III. Teori Fungsionalisme Struktural dan Kekuasaan
Karena sarana komunikasi massa terdapat dalam semua masyarakat modern yang kompleks, maka saarana tersebut dinilai memainkan peranan penting dalam proses penyuluhan dan kontrol sosial.
Teori dependensi media yang pada dasarnya bernada fungsinalis diformulassikan oleh Ball Rokeach dan DeFleur (1976) menyebutkan dependensi relatif (relative dependence) khalayak terhadap sumber media massa (dibandingkan sumber informasi lain) merupakan variabel yang harus ditentukan secara empiris.
IV. Model Alternatif Hubungan Kekuasaan Media
Aliran pluralis (Gurevich- 1982) memandang masyarakat sebagai suatu arena persaaingan kelompok dan kepentingan; tidak ada satu pun kelompok yang dapat memiliki dominasi untuk selama-lamanya. Model ini menekankan kapasitas publik yang beraneka ragam untuk menyatakan kehendaknya yang berbeda, menolak persuasi, memberi reaksi, dan memanfaatkan media. Media pun lebih tanggap terhadap kepentingan publik.
Model Pluralis
Model pluralis menekankan lebih dari satu persepsi tentang media dan beberapa perangkat nilai, antara lain:
1. Model ini dapat memainkan nilai. Model ini dapat mencerminkan cita-cita kebebasan, yang mengehndaki tidak adanya kontrol, kecuali tangan pasar yang bersembunyi yang pada mulanya bekerja untuk meningkatkan pemenuhan kebutuhan dan kepentingan seluruh masyarakat.
2. Mencerminkan tanggung jawab sosial (media dalam sistem demokrasi liberal). Dalam sistem tersebut institusi media cenderung dan didorong untuk memenuhi kebutuhan berbagai kelompok yang saling bersaing, juga untuk memmenuhi keinginan publik sesuai batas kewenangan profesional media.
3. Menekankan voluntarisme dan indenpendensi khalayak dengan konsep ‘media emansipasi’. Konsep emansipasi media (Enzensberger 1970) untuk mendorong interaksi, self expression, self realization, peningkatan kesadaran kelompok atau masyarakat dan self moblilization.
B. MASALAH INTEGRASI
Komunikasi massa seringkali dikatakan individualistis, interpersonal, dan anomis. Oleh karena itu komunikasi massa sangat menunjang punahnya kontrol sosial dan solideritas. Pandangan alternatif menyangkut hubungan media massa dengan integrasi sosial dilandasi kemampunnya untuk menyatukan para individu terpisah-pisah menjadi satu kesatuan khalayak besar dan para pendatang baru menjadi bagian urban, serta kemampuannya untuk menyajikan seperangkat nilai, ide, informasi, dan persepsi yang sama kepada setiap orang.
McCormack (1961) menyatakan fungsi yang diperankan media di negara-negara modern adalah untuk melakukan itegrasi dan sosialisasi. Isi media bukan saja sekedar informasi, tetapi juga menyajikan hiburan dan kesenangan yang mempu menciptakan rasa kebersamaan.
a. Teori Masyarakat Massa dan Integrasi
Teori masyarakat massa berpangkal dari pandangan bahwa para anggota masyarakat tidak terintegrasi. Menurut Korhouser (1986) sebenarnya banyak anggota masyarakat yang tidak diorganisasi secara baik dan tidak pula berperan serta seepenuhnya, menghendaki adanya upaya para pemimpin untuk memobilisasi dan mengorganisasi mereka. Meyrowitz (1985) menyatakan bahwa media telah ikut bertanggungjawab atas hilangnya rasa keterikatan dengan tenpat (sense of place) dalam mmasyarakat modern dan punahnya beberapa unsur penguat identitas.
Media massa dalam teori ini berperan dalam menyediakan pengganti unsur-unsur di atas yang telah hilang.
b. Teori Marxis dan Integrasi
Teori ini memandang integrasi dalam masyarakat kapitalis yang terpecah oleh konflik kepentingan kelas. Integrasi dapat berarti pemaksaan konsensus ideologi (kesadaran palsu), mekanisme kontrol sosial yang menguntungkan kelas penguasa, atau berarti kohensi ideologis yang diterima oleh kelompok oposisi agar dapat melakukan perubahan. Biasanya perrubahan tersebut memerlukan adanya pemilikan media independen.
c. Teori Fungsioanalisme Struktural dan Integrasi
Teori ini berpendangan aksiomatik yang menyatakan bahwa kondisi integrasi merupakan syarat mutlak bag kelancaran (keberlangsungan) setiap sistem sosial. Baik integrasi fungsioanl maupun normatif.
Dalam organisasi media terdapat penekanan yang diterapkan baik secara langsung, maupun secara formal untuk memperoleh kepastian adanya kepatuhan para karyawan terhadap kebijakan dan kebiasaan organisasi ynag bersangkutan. Kohensi dan loyalitas dalam institusi media cenderung membantu proses integrasi kedalam masyarakat serta menunjang terciptanya efek kontrol sosial dan kohensi yang lebih besar. Gans (1979) media besar seringkali mengambil inisiatif sendiri untuk menyatakan apa yang dianggapnya sebagai nilai-nilai dominan dalam masyarakatnya.
C. KOMUNIKASI MASSA DAN PERUBAHAN SOSIAL
Secara historisitas hubungan antara timbulnya komunikasi massa dan perubahan lain dalam masyarakat, melibatkan:
1. Tipologi hubungan budaya-masyarakat (Rosengren-1981)
2. Interpendensi (ketergantungan)
3. Idealisme
- Perubahan nilai individu.
- Media sebagai ‘motor perubahan’
- Determinisme teknologi (medium)
- Teori Pengembangan (cultivation theory) menekankan pada “dampak”.
- Imprealisme budaya
4. Pendekatan materialis
5. Otonomi
PERTEMUAN 4
Enam Ragam Teori Normatif Tentang Struktur Dan Penampilan Media
ENAM RAGAM TEORI NORMATIF STRUKTUR DAN PENAMPILAN MEDIA
Isi media mendapat tekanan dari kekuatan sosial-politik stempat dan tuntutan untuk memenuhi harapan khalayak. Media mencerminkan, menyajikan dan berperanserta secara aktif untuk memenuhi kepentingan nasional yang ditentukan oleh para aktor dan institusi lain yang lebih kuat. Gambaran media sebagai institusi mediasi, yang menghubungkan para anggota masyarakat biasa dengan peristiwa dunia yang sulit dijangkau dan penguasa, merupakan ide yang mengandung konsep hubungan yang terjadi karena arus informasi yang kontinu.
Berikut enam ragam teori normatif
1. Teori otoriter
2. Teori pers bebas
3. Teori tanggung jawab sosial
4. Teori media soviet
5. Teori media pembangunan
6. Teori media demokratik-pertisipan
1. Teori Otoriter
Istilah ini diberikan oleh Siebert, teori ini mengidentifikasi pengaturan pers tentang kapan dan di mana pers mulai dalam masyarakat, untuk hampir semua bagian monarki di mana pers tunduk pada kekuasaan negara dan kepentingan kelas penguasa.
Teori otoriter membenarkan adanya sensor pendahuluan dan hukuman atas penyimpangan dari pedoman yang ditetapkan secara eksternal yang khususnya cenderung berlaku bagi hal-hal yang bersifat politis atau segala sesuatu yang memiliki implikasi ideologi yang jelas.
Bentuk pengungkapan teori otoriter melalui:
a. Peraturan perundang-undangan
b. Pengendalian produksi secara langsung oleh pemerintah negara.
c. Kode etik yang dapat diberlakukan.
d. Pajak dan jenis sanksi ekonomi lainnya.
e. Pengendalian impor media mancanegara.
f. Hak pemerintah untuk mengangkat staf redaksi
2. Teori Pers Bebas
Teori sederhana ini merupakan teori yang berisi atau menimbulkan ketidakonsistenan mendasar. Dalam bentuk yang paling dasar teori ini hanya menyatakan bahwa seseorang seyogyanya bebas mengungkapkan hal-hal yang disukainya dan karenanya merupakan peluasan hak-hak lainnya, yaitu hak untuk berpendapat secara bebas dan hak untuk mengungkapkan pendapat itu, serta hak untuk bergabung dan berserikat dengan yang lain.
Dengan demikian prinsip dan nilai-nilai yang mendasarinya identik dengan prinsip dan nilai-nilai negara demokrasi liberal, yaitu keyakinan akan keunggulan individu, akal sehat, kebenaran dan kemajuan, dan akhirnya, kedaulatan kehendak rakyat.
Pers bebas dipandang sebagai komponen yang penting dari masyarakat bebas dan rasional. Gagasan tentang pers bebas dapat diungkapkan dalam beberapa prinsip:
a. Publikasi seyogyanya bebas dari setiap penyensoran pendahuluan oleh pihak ketiga.
b. Tindakan penerbitan tanpa memerlukan izin dan lisensi
c. Kecaman terhadap pemerintah, pejabat, atau partai politik seyogyanya tidak dapat dipidana.
d. Publikasi kesalahan dilindungi sama halnya dengan publikasi kebenaran.
e. Tidak ada batasan hukum yang diberlakukan terhadap upaya pengumpulan informasi untuk kepentingan publikasi.
f. Wartawan seyogyanya mampu menuntut otonomi profesional yang sangat tinggi di dalam organisasi mereka.
3. Teori Tanggung Jawab Sosial
Menurut Hutchins (1947) teori ini berasal dari inisiatif orang Amerika – Komisi Kebebasan Pers (Commossion on freedom of the press. Teori ini menggabungkan prinsip:
a. Prinsip kebebasan dan pilihan individual
b. Prinsip kebebasan media
c. Prinsip kewajiban media terhadap masyarakat
Teori tanggung jawab sosial memiliki dua bentuk penanggulangan:
1) Pengembangan lembaga publik, tetapi mandiri, untuk mengelola siaran, pada gilirannya sangat berpengaruh untuk meningkatkan cakupan kekuatan politis dari konsep tanggung jawab sosial.
2) Pengembangan profesionalisme lebih sebagai sarana untuk mencapai standar prestasi tinggi, pada saat yang sama mempertahankan pengaturan oleh media.
4. Teori Media Soviet
Pers Rusia dan media lain direorganisasi sepenuhnya setelah revolusi 1917. gagasan teori ini:
a. Kelas pekerja berdasarkan definisi memegang kekuasaan dalam masyarakat sosialis, untuk tetap berkuasa, semua media harus tunduk pada pengendalian kelas pekerja-terutama Partai Komunis.
b. Masyarakat sosialis adalah, atau diharapkan menajdi masyarakatkelas dan karenanya tidak mengandung konflik kelas, sehingga pers seyogyanya tidak distruktur sejalan dengan konflik politik.
c. Pers memainkan peran positif dalam pembentukan masyarakat dan gerakan kearah komunisme dan hal ini menunjukan sejumlah fungsi yang penting bagi media dan sosialisasi, pengendalian sosial informal, dan mobilisasi untuk mencapai tujuan sosial dan ekonomi yang terrencana.
d. Marxsisme mensyaratkan hukum sejarah objektif dan karenanya pers harus mencerminkan realitas objektif. Hal ini mengunrangi cakupan penafsiran pribadi dan menyediakan seperangkat nilai berita yang berbeda dari nilai yang dianut sistem pers liberal.
Kesimpulan teori media soviet adalah:
a. Media seharusnya melayani kepentingan dari, dan berada di bawah pengendalian, kelas pekerja.
b. Media seharusnya tidak dimiliki secara pribadi
c. Media harus melakukan fungsi positif bagi masyarakat dengan; sosialisasi terhadap norma yang diinginkan, pendidikkan, informasi, motivasi dan mobilisasi.
d. Tugas media dalam masyarakat, media harus tanggap terhadap keinginan dan kebutuhan audiens.
e. Masyarakat berhak melakukan sensor dan tindakan hukum lainnya untuk mencegah, atau menghukum setelah terjadinya peristiwa, publikasi anti-masyarakat.
f. Media perlu menyediakan pendangan yang purna (complete) dan objektif tentang masyarakat dan dunia, dalam batas prinsip marxisme-leninisme.
g. Wartawan adalah ahli yang bertanggungjawab yang tujuan dan cita-citanya seharusnya serupa dengan kepentingan terbaik masyarakat.
h. Media hendaknya mendukun gerakan progresif di dalam dan di luar negeri
5. Teori Media Pembangunan
Teori pembangunan tentang media massa ialah adanya fakta beberapa kondisi umum negara berkembang yang membatasi aplikasi teori lain atau mengurangi kemungkinan maslhatanya. Beberapa kondisi yang diperlukan bagi pengembangan komunikasi massa:
a. Infrastruktur komunikasi
b. Keterampilan profesional
c. Sumber daya produksi dan budaya
d. Audiens yang tersedia.
Prinsip utama teori ini adalah:
a. Media seharusnya menerima dan melaksanakan tugas pembangunan positif sejalan dengan kebijaksanaan yang ditetapkan secara nasional
b. Kebebasan media seharusnya dibatasi sesuai dengan (1) perioritas ekonomi dan (2) kebutuhan pembangunan masyarakat.
c. Media hendaknya memprioritaskan berita dan informasinya pada negara berkembang lainnya yang erat kaitannya secara geografis, kebudayaan, atau politik.
d. Para wartawan dan karyawan media lainnya memiliki tanggung jawab serta kebebasan dalam tugas mengumpulkan informasi dan penyebarluasannya
e. Begi kepentingan tujuan pembangunan, negara memiliki hak untuk campur tangan dalam, atau membatasi, pengoperasian media serta sarana penyensoran, subsidi, dan pengendalian langsung dapat dibenarkan.
Rumusan prinsip teori ini adalah sebagai berikut:
a. Warga negara sebagai individu dan kelompok minoritas memiliki hak pemanfaatan media (hak untuk berkomunikasi) dan hak untuk ddilayani oleh media sesuai dengan kebutuhan yang mereka tentukan sendiri.
b. Organisasi dan isi media seharusnya tidak tunduk pada pengendalian politik yang dipusatkan atau pengendalian birokrasi negara.
c. Media seharusnya ada terutama untuk audiensnya dan bukan untuk organisasi media, para ahli atau nasabah media tersebut.
d. Kelompok organisasi, dan masyarakat lokal seyogyanya memiliki media sendiri
e. Bentuk media yang berskala kecil, interaktif dan partisipatif lebih baik ketimbang media berskala besar, satu arah, dan diprofesionalkan.
f. Kebutuhan sosial tertentu yang berhubungan dengan media massa tidak cukup hanya diungkapkan melalui tuntutan konsumen perorangan, tidak juga melalui negara dan berbagai lembaga utamanya.
g. Komunikasi terlalu penting untuk diabaikan oleh para ahli.
Kriteria Penilaian Penampilan Media
1. Kebebasan dan Interpendensi
2. Keterlibatan dan solideritas
3. Keanekaragaman dan akses
4. Objektivitas dan kualitas informasi
5. Kualitas budaya
PERTEMUAN 5
Produksi Budaya Media; Isntitusi, Organisasi dan Peran Media, Isi media
A. Kontek Produksi Budaya Media
Komponen utama permaslahan produksi media ialah membicarakan sejumlah kegiatan yang menyajikan apa yang dilakukan oleh para komunikator massa dalam organisasi media dan institusi yang lebih luas. Isntitusi media cenderung mengemban semangat teori pers normatif, serta menciptakan aturan permainan yang menyangkut fungsi dan tujuan dalam masyarakat, perbedaan antarmedia, lingkup kegiatan media dan hubungannya dengan institusi lain (politik, pendidikan, agama, sosial, budaya dan lain-lain) serta kebebasan media untuk membentuk publiknya. Sementara organisasi media merupakan latar (setting) memiliki sistem manajemen. Konsep organisasi media sering ditata ulang sesuai dengan kebutuhan disebabkan adanya amalgamasi (integrasi) ke dalam multimedia atau kelompok multinasional.
Istilah komunikator massa dikenal sejak 1939 yang mengacu kepada orang yang bekerja pada media, sedang pandangan tentang peran khusus yang dijalankan oleh orang yang mengontrol atau menguasi saluran komunikasi massa dikenal sejak lama.
Dimmick dan Coit (1982) mengidentifikasikan jenjang penerapan pengaruh kekuasaan analisis untuk memahami produksi media, diantaranya
1. Supranasional (badan atau perusahaan internasional)
2. Masyarakat (pemerintahan)
3. Industri (perusahaan media; perusahaan iklan)
4. Supraorganisasi (jaringan atau kelompok)
5. Komunitas (kota kecil, masyarakat lokal, kelompok usaha niaga)
6. Kelompok intraorganisasi (baik formal atau nonformal)
B. Keanekaragaman Internal Institusi Media
Ragam utama definisi media institusi adalah:
1. Tipe Media (standar media-media)
2. Skala dan jangkauan operasi (nasional, internasioanal, lokal)
3. Kewajiban kerja atau fungsi (produksi)
4. Bentuk kepemilikan, pengendalian atau manajemen
C. Hubungan dengan Masyarakat
1. Sasaran organisasi media
2. Pemihakan atau netralitas media
3. Ciri-ciri komunikator massa
4. Akses
D.Hubungan dengan Klien, Pemilik dan Pemasok (supplier)
Beberapa faktornya antara lain:
1. Sumber dana (tujuan mencari untung, profesionalitas)
2. Tujuan para profesional
3. Media seperti perusahaan
4. Media berorientasi pasar
5. Media publik
E. Hubungan dengan Sumber
Konsep media sebagai ‘penjaga pintu gerbang’ (White) untuk menggambarkan perusahaan surat kabar yang memilih sejumalh kecil bahan berita. Pola penyeleksian sumber diidentifikasikan:
1. Memilih pengarang (seniman) untuk menentukan publikasi karya.
2. Kontak kesinambungan orang ‘dalam’
3. Pengamatan langsung (sumber berita)
4. Memanfaatkan pelayanan badan pemasok berita
F. Hubungan Internal Organisasi Media
Orientasi dasar pembagian media secara internal sebagai berikut:
1. Ditujukan pada sasaran efisiensi dan keberhasilan dalam bidang ekonomi yang ditargetkan oleh manajer.
2. Ditujukan pada sasaran profesional yang ditetapkan oleh penilaian para ahli dan teman sejawat
3. Ditujukan pada masyarakat luar yang dipengaruhi oleh berita, pendapat dan seni kreatif.
4. Ditujukan pada kemashuran dan keberhasilan bersama publik tertentu
G. Hubungan dengan Audiens
Para pelaksana media cenderung menunjukan ‘autism” yang tinggi (keasyikan menilai diri sendiri) yang sangat bergantung pada pengentahuan mereka (profesional) dari pada pengentahuan klien.
H. Kegiatan Organisasi media: Penjaga Gerbang (getkeeper)
1. Penjagaan gerbang
2. Tokoh dan seleksi
3. Lokasi dan seleksi
4. Waktu dan seleksi
5. Faktor lain dan media lainnya
I. Kegiatan Organisasi Media: Mekanisme Proses dan Penyajian
Walaupun komunikasi massa merupakan salah satu bentuk produksi massal, tetapi standarisasinya berkaitan dengan reproduksi dan distribusi yang dilakuakan berkali-kali. Ragam isi atau ide yang bermacam-macam dan unik disesuaikan dengan bentuk yang tidak asing bagi produsen media dan diaanggap akrab dengan khalayak (spessipiksi yang ditentukan oleh organisasi).
Tinjauan terhadap mekanisme dalam dunia media massa yang bercirikan komersial-industrial menurut Ryan dan Peterson (1982) menyajikan lima kerangka proses pengambilan keputusan dalam seni media (terutama industri musik)
1. Model lini perakitan (assembly line)
2. Model keterampilan dan kewiraswastaan (craft and enterpreneurship)
3. Model konvensi dan formula (convention and formula)
4. Model citra khalayak dan konflik (audinence image and conflict)
5. Model citra produk (product image)
Isi Media
A. Tujuan Analisis Isi
1. Isi seperti yang dikirim dan diterima
2. Pelacakan dampak
3. Isi sebagai bukti komunikator
4. Isi media sebagai bukti masyarakat dan budaya
5. Penilaian media dan organisasinya
6. Studi isi demi isi itu sendiri
7. Konflik dan ketidakkonsistenan tujuan
B. Modus Pembahasan dan Metode Analisis
1. Analisis isi tradisional
2. Strukturalisme dan semiologi
C. Varian dan Kemungkinan lain
Berelsonian (Barthian) mengkombinasikan kedua pendekatan di atas. Prinsipnya setiap upaya sistematis untuk mencirikan dan mengidentifikasikan kekhasan tubuh isi dapat berinklusi di dalam jajaran pendekatan yang telah diidentifikasikan antara kategorisasi nyata dan evaluasi kritis atau moral.
D. Isi Media dan Realitas Sosial
1. Tema yang mempersatukan
2. Teori tentang Penyimpangan realitas
a. teori fungsional
b. teori hegemoni
c. teori organisasi
E. Aliran Berita
1. Pemusatan berita
2. Pengertian berita
3. Berita dan kepentingan manusiawi
4. Nilai dan struktur berita
5. Bentuk dan laporan berita
PERTEMUAN 6
Audiens Media dan Proses Dampak Media Massa
A. Audiens Media
Istilah ‘audiens media’ berlaku universal dan secara sederhana dapat diartikan sebagai sekumpulan orang yang menjadi pembaca, pendengar, pemirsa berbagai media atau komponen isinya. Dengan demikian, penggemar dari para penulis, kelompok musik, atau serial televisi (sinetron, opera sabun) tertentu merupakan audiens, tetapi audiens yang tidak mudah dilokasikan menurut waktu atau tempat mungkin tidak memiliki eksistensi sebagai kelompok sosial.
B. Timbulnya Audiens
1. Mulanya ‘audiens’ adalah perkumpulan penonton drama, permainan dan tontonan, yaitu penonton ‘pertunjukan’.
2. Audiens adalah pertemuan publik, berlangsung dalam waktu rentang tertentu, dan terhimpun bersama oleh tindakan individual untuk memilih secara sukarela sesuai dengan harapan tertentu bagai maslahat menikamati, mengagumi, mempelajari, merasa gembira, tegang, kasihan atau lega.
3. Gagasan audiens menyusul penemuan percetakan dan perkembangan publik pembaca (reading public) yaitu mereka yang benar-benar ikut serta dalam bacaan pribadi dan menyediakan pengikut bagi penulis dan aliran tertentu (termasuk surat kabar).
C. Konsep Alternatif tentang Audiens
1. Audiens sebagai kumpulan (penonton, pembaca, pendengar, pemirsa)
2. Audiens sebagai massa
3. Audiens sebagai publik atau kelompok sosial
4. Audiens sebagai pasar
D. Tipologi Formasi Audiens
1. Kelompok atau publik
2. Kelompok kepuasan
3. Kelompok penggemar (budaya cita rasa)
4. Audiens medium
E. Karakter Sosial Pengalaman Audiens
1. Kandungan kelompok dalam audiens
2. Diferensiasi sosial
F. Interkasi Sosial (Audiens)
1. Pergaulan sosial
2. Penggunaan sosial
3. Isolasi sosial
4. Hubungan audiens dengan pengirim
5. Pengendalian normatif
6. Seberapa aktif pengalaman audiens
G. Teori Komposisi Audiens
1. Sejarah kelembagaan audiens
2. Manajemen pasar
3. Memberikan hal-hal yang diinginkan audiens
4. Perbedaan sumber kesenangan
5. Teori fungsional
6. Penjelasan sosial budaya
H. Pengaruh Audiens atas Isi
1. Kritik dan penggemar
2. Pertanggungjawaban yang dilembagakan
3. Pasar
4. Balikan langsung (surat kepada redaksi)
5. Pemanfaatan citra audiens’
6. penelitian
Proses Dampak Media Massa
A. Sejarah Penelitian dan Teori Dampak Media
Perkembangan ini ditentukan oleh suasana waktu dan tempat serta dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan, yaitu:
1. Kepentingan pemerintah dan pembuat undang-undang
2. Kebutuhan industri
3. Aktivitas berbagai kelompok penekan (pressure groups)
4. Tujuan propaganda dan komersial
5. Tekanan opini publik pada saat bersangkutan
6. Model-model ilmu sosial
B. Tahap sejarahnya:
1. Tahun 1930-an media berpengaruh membentuk opini dan keyakinan, mengubah kebiasaan hidup.
2. Penggunaan film dan media lain (1960-an) untuk keperluan persuasi aktif atau penyebaran informasi atau untuk menilai, dengan tujuan pencegahan, dampak yang merusak dalam kaiatannya dengan pelanggaran hukum, prasangka, agresi, rangsangan seksual.
3. Penelitian dampak ke arah (dewasa ini):
a. perubahan jangka panjang
b. kognisis, sikap dan afeksi
c. peran yang dimainkan oleh isi
d. disposisi dan motivasi
e. gejala kolektif seperti iklim opini
f. struktur keyakinan
g. ideologi
h. pola budaya
i. bentuk-bentuk kelembagaan
C. Tingkat dan Jenis Dampak
Klapper (1960) membedakan menjadi:
1. Konversi (maksud komunikator)
2. Perubahan kecil (perubahan bentuk ataau intensitas penegasan oleh penerima
3. Penguatan (keyakinan opini sendiri)
D. Proses Dampak Media (tipologi)
1. Penentuan realitas
2. Tanggapan individu
3. Kampanye media
4. Reaksi individu
5. Reaksi kolektif
6. Penyebaran dalam pembangunan
7. Distrubusi pengetahuan
8. Sosialisasi
9. Pengendalian sosial
10. Perubahan lembaga
E. Rangsangan Individu dan Reaksi Individu
Model S-R (Stimulus-Respon/Rangsangan-reaksi)
Pesan Tunggal ------- Penerima Individu ----Reaksi
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam model S-R
1. Kondisi yang menegahi
2. Hubungan sumber-penerima
3. Reaksi yang tidak diinginkan
F. Kampanye
Kampanye seringkai menyangkut soal pengarahan, pemerkuatan, dan penggerakan kecenderungan yang ada ke arah tujuan yang diperkenankan secara sosial seperti pemungutan suara, pembelian barang-barang, pengumpulan dana peningkatan kesehatan dan keselamatan, dan sebagainya.
G. Difusi dalam Konteks Pembangunan
Everett Rogers (1962) dan Scoemaker (1973) memberikan model difusi informasinya menggambarkan empat tahap:
1. Informasi
2. Persuasi
3. Keputusan atau penerimaan
4. konfirmasi
H. Distribusi Pengetahuan
1. Difusi berita
2. Pengaturan agenda
3. Kesenjangan pengetahuan
I. Penentuan Realitas
1. Spiral kebisuan (pembentukan opini)
2. Menata realitas (bias yang tidak disadari)
3. Teori pengolahan
Selain diatas terdapat pendekatan lainnya, antara lain:
1. Pengendalian sosial dan pembentukan kesadaran
2. Dampak terhadap lembaga sosial lainnya
3. Hasil akibat suatu peristiwa
TIGA (Dampak dan Penelitian) ASPEK KOMUNIKASI TERAPAN
A. Berita
1. Ciri-ciri utama, kategori berita merupakan kategori terbesar dalam sajian media.
2. Apakah berita efektif?
3. Efek macam apa yang ditimbulkannya?
4. Mekanisme efek apa yang ditimbulkannya?
5. Bahan pertimbangan untuk kebijakan?
B. Iklan dan hubungan Masyarakat
1. Ciri utama (kepentingan pengirim bukan penerima)
2. Apakah iklan itu efektif?
3. Efek macam apa yang ditimbulkannya?
4. Mekanisme efek yang ditimbulkannya?
C. Kampanye Informasi Publik
1. Ciri utama (dirancang demi kepentingan penerima, bukan pengirim)
2. Apakah kampanye informasi publik itu efektif?
3. Efek macam apa yang ditimbulkannya?
4. Mekanisme efek apa yang ditimbulkan?
5. Bahan pertimbangan
PENGERTIAN KOMUNIKASI
MASSA DAN DEFINISI MEDIA BARU
KOMUNIKASI MASSA SEBAGAI SUATU OBJEK ILMU
Media mempunyai fungsi penting (Danish McQuail) dengan asumsi:
1. Media merupakan industri yang berubah dan berkembang yang menciptakan lapangan kerja, barang dan jasa serta menghidupkan industri lainnya yang memiliki aturan dan norma-norma yang menghubungkan istitusi tersebut dengan masyarakat dan isntitusi sosial lainnya.
2. Media massa merupakan sumber kekuatan – alat kontrol, manajemen dan inovasi dalam masyarakat yang dapat didayagunakan sebagai pengganti kekuatan sumber daya lainnya.
3. Media merupakan lokasi (forum) yang semakin berperan, untuk menampilkan peristiwa-peristiwa kehidupan masyarakat, baik yang bertaraf nasional maupun internasional.
4. Media seringkali berperan sebagai wahana pengembangan kebudayaan, bukan saja dalam pengertian pengembangan bentuk seni dan simbol, tetapi juga dalam pengertian pengembangan tata cara, mode, gaya hidup dan norma-norma.
5. 5. Media telah menjadi sumber dominan bukan saja bagi individu untuk memperoleh gambaran dan citra realitas sosial, tetapi juga bagi masyarakat dan kelompok secara kolektif; media menyuguhkan nilai-nilai dan penilaian normatif yang dibaurakan dengan berita dan hiburan
4 (empat) teori yang berkenaan dengan komunikasi massa menurut Danish McQuail:
1. Teori ilmu pengetahuan sosial
2. Teori normatif
3. Teori praktis
4. Teori akal sehat (commonsense theory)
KONSEP KOMUNIKASI MASSA
Menurut Werner J. Severin – James W. Tankard, Jr komunikasi massa disefinisikan sebagai berikut:
1. Komunikasi massa diarahkan kepada audiens yang relatif besar, heterogen, dan anonim.
2. Pesan-pesan yang disebarkan secara umum, sering dijadwalkan untuk bisa mencapai sebanyak mungkin anggota audiens secara serempak dan sifatnya sementara.
3. Komunikator cenderung berada atau beroperasi dalam sebuah organisasi yang kompleks yang mungkin membutuhkan biaya yang besar .
Menurut Sasa Djuarsa Senjaya teori-teori mengenai komunikasi massa lahir melalui berbagai penelitian yang didorong oleh perhatian terhadap politik terhadap media surat kabar. Berikut ini teori yang cukup berpengaruh bagi perkembangan komunikasi massa adalah:
1. Formula Laswell
Formulasi proses komunikasi massa menurut Laswell:
a. siapa (Who)
b. Berkata apa (Says What)
c. Melalui Saluran apa (In Which Channel)
d. Kepada siapa (To Whom)
e. Dengan efek apa (With What Affect)
2. Pendekatan transmisional
Walaupun prinsip teknologi pasti (matematis) berbeda dari proses komunikasi manusia, namun teori yang dikemukan Shannon Weaver telah menjadi ide dasar bagi banyak teori komunikasi massa.
Melvin deFleur (1996) dalam bukunya Theories of Mass Communication mengembangkan dan mengaplikasikan teori transmisional ke dalam teori komunikasi massa.
3. Pendekatan Psikologi Sosial
Dengan mendasarkan pada prinsip keseimbangan kognitif yang dikemukakan oleh Heider (1946) dan penerapannya oleh Newcomb (1953) pada keseimbangan antara dua individu dalam proses komunikasi ketika menanggapi suatu topik tertentu.
Media Baru
Inovasi bukanlah hal baru bagi media massa, Beadle Brotheers yang memperkenalkan novel buram sebelum perang sipil adalah media baru pada zamannya. Stasiun radio yang hanya melayani lingkungan sekitarnya disebut dengan media alternatif, dengan transmiter berdaya rendah. Pers anti kemapanan di era 1970-an adalah salah satu media baru, yang didistribusikan secara geratis, penekanannya ialah hiburan lokal. Sementara high-tech Media, penciptaan teknologi dengan cybercafe, Wi-Fi blogger internet dan jurnalimse publik secara on-line dewasa ini.
PERTEMUAN 2
Konsep Dan Definisi Komunikasi Massa
Teori Media Dan Teori Masyarakat
Konsep Massa
Kata kunci ‘Massa’ dalam bidang ilmu pengetahuan sosial kata massa dahulu (bahkan sampai sekarang) mengandung makna positif dan negatif yang kuat. Makna negatifnya menurut sejarah, berasal dari pemakaian kata dalam kaitannya dengan kerumunan (mob) atau orang banyak, khususnya dalam dalam pengertian sejumlah orang yang tidak teratur dan bebal. Dalam konteks seperti itu, kata tersebut mengandung arti tidak memiliki budaya, kecakapan, dan bahkan rassionalitas.
Di lain pihak, pengertian positifnya (terutama dalam tradisi sosialis) mengandung konotasi kekuatan dan solideritas di kalangan kelas pekerja biasa. Kekuatan dan solideritas tersebut muncul manakala para pekerja itu diarahkan untuk mencapai tujuan kolektif. Dalam konteks yang menilai kuantitas sebagai sesuatu hal yang positif, misalnya kaitannya dengan istilah ‘dukungan massa’, ‘gerakan massa’ , ‘aksi massa’ dan lain-lain.
Pengertian komunikasi massa (Denis Mcquail) terutama dipengaruhi oleh kemampuan media massa untuk membuat produksi massal dan untuk menjangkau khalayak dalam jumlah besar. Disamping itu ada pula makna lain yang dianggap makna asli – dari kata massa, yakni suatu makna yang mengacu pada kolektivitas tanpa bentuk, yang komponen-komponenya sulit dibedakan satu sama lain.
Selanjutnya McQuail mengatakan bahwa dalam kamus bahasa Inggris memberikan definiisi “massa” sebagai ‘ suatu kumpulan orang banyak yang tidak mengenal keberadaan individualitas’. Definisi ini hampir menyerupai pengertian massa yang digunakan oleh para sosiologi, khususnya bila dipaakai dalam kaiatanya dengan khalayak media.
Tipe kolektivitas
Herbert Blumer (1939) membuat definisi massa dengan membandingkan istilah tersebut dengan bentuk kolektivitas lainnya yang kita temukan dalam kehidupan sosial, khususnya ‘kelompok’, ‘kerumunan’, dan ‘publik’
Khalayak Sebagai Massa
Istilah ‘massa’ mencakup beberapa unsur khalayak radio dan sinema (film) yang tidak saling dikaitkan oleh salah satu dai ketiga konsep yang ada (kelompok, publik, kerumunan). Massa seringkali sangat besar – lebih besar dari kebanyakan kelompok, kerumunan atau publik. Para anggotanya tersebar luas dan biasanya tidak saling mengenal satu sama lain, termassuk orang yang menyebbabkan lahirnya khalayak itu. Para anggotanya bersifat heterogen dan banyak sekali jumlahnya, serta berasal dari semua lapisan sosial dan kelompok demografis.
Khalayak media massa bukanlah satu-satunya formasi sosial yang dapat digambarkan dengan cara di tasa, karena kata massa kadang kala dipakai untuk menyebutkan para konsumen di pasar massal atau sejumlah besar pemilih (massa pemberi suara). Kumpulan manusia semacam ini seringkali ada hubungannya dengan pengertian khalayak. Media massa digunakan untuk mengarahkan atau mengendalikan ‘perilaku konsumen’ dan perilaku politik sejumlah besar pemilih
Ciri-Ciri Utama Komunikasi Massa
1. Sumber komunikasi massa, bukanlah satu orang, melainkan suatu organisasi formal.
2. Sang pengirimnya (komunikator) seringkali merupakan komunikator profesional.
3. Pesannya tidak unik dan beraneka ragam serta dapat diperkirakan. Disamping itu pesan tersebut diproses, distaandarisasi, dan selalu diperbanyak.
4. Pesan merupakan suatu produk dan komoditi yang mempunyai nilai tukar, serta acuan simbolik yang mengandung nilai kegunaan.
5. Hubungan antara pengirim dan penerrima bersifat satu arah dan jarang sekali bersifat interaktif. Hubungan tersebut bersifat impersonal, non-moral dan kalkulatif (sang pengirim pesan tidak bertanggung jawab atas konsekuensi yang terjadi)
TEORI MEDIA DAN TEORI MASYARAKAT
Komunikasi Massa Sebagai Proses Masyarakat
Beberapa asumsi dasar yang melatarbelakangi kerangka teori komunikasi massa ialah:
1. Istitusi media menyelanggarakan produksi, reprodukksi dan distribusi pengetahuan dalam pengertian serangkaian simbol yang mengandung acuan makna tentang pengalaman dalam kehidupan sosial.
a. media massa memiliki fungsi pengantar (pembawa) bagi segenap macam pengetahuan.
b. Media massa menyelenggarakan kegiatannya dalam lingkungan publik, pada dasarnya media massa dapat dijangkau oleh segenap anggota masyarakat secara bebas, suka rela, umum dan murah.
c. Hubungan antara pengirim dengan penerima seimbang dan sama
d. Media menjangkau lebih banyak orang dari pada istitusi lainnya dan mengambil alih peran sekolah, orang tua, agama dan lain-lain.
2. Media massa memiliki peran mediasi (penengah/penghubung) antara realitas sosial yang objektif dengan pengalaman pribadi. Media berperan sebagai:
a. Jendela pengalaman yang meluaskan pandangan kita dan memungkinkan kita mampu memahami apa yang terjadi di sekitar diri kita, tanpa campur tangan pihak lain atau sikap memihak.
b. Juru bahasa yang menjelaskan dan memberikan makna terhadap peristiwa atau hal yang terpisah dan kurang jelas.
c. Pembawa atau pengantar informasi dan pendapat.
d. Jaringan interaktif yang menghubungkan pengirim dengan penerima melalui berbagai macam umpan balik.
e. Papan penunjuk jalan yang secara aktif menunjukan arah, memberikan bimbingan atau instruksi.
f. Penyaring yang memilih bagian pengalaman yang perlu diberi perhatian khusus daan menyisihkan aspek pengalaman lain, baik secara sadar dan sistematis maupun tidak.
g. Cermin yang memantulkkan citra masyarakat terhadap masyaraakat itu sendiri.
h. Tirai atau penutup yang menutupi kebenaran demi pencapaian tujuan propaganda atau pelarian dari suatu kenyataan (escapism).
Teori Masyarakat Massa
Beberapa Pandangan Aliran dan Teori:
1. Marxisme (pandangan klasik)
Marx mengenal pers sebelum pers berfungsi sepenuhnya sebagai media massa. Marx mengatakan bahwa media merupakan alat produksi yang disesuaikan dengan tipe umum industri kapitalis beserta faktor produksi dan hubungan produksinya. Media cenderung dimonopoli oleh kelas kapitalis, yang penangannya dilaksanakan baik secara nasional maupun internasional untuk memenuhi kepentingan kelas tersebut.
2. Teori media politik-ekonomi
Teori media politik-ekonomi merupakan nama lain yang dihidupkan kembali untuk digunakan dalam menyebutkan sebuah pendekatan yang memusatkan perhatian lebih banyak pada struktur ekonomi daripada muatan (isi) ideologis media. Teori ini mengemukakan ketergantungan ideologi pada kekuatan ekonomi dan mengarahkan perhatian pada struktur pemilikan dan mekanisme kerja kekuatan pasar media.
3. Aliran Frankfurt (teori kritik)
Aliran Frankfurt atau disebut juga dengan aliran Marxis ketiga. Para ahli teori kritik yang dewasa ini menganut pendekatan yang disebut pendekatan ‘budaya’ (culturalist). Mracuse menggunakan istilah masyarakat ‘satu-dimensi’ untuk menyebutkan masyarakat yang lahir dari dukungan ‘budaya industri’. Penekanan maslah yang oleh aliran ini ditujukan pada media sebagai suatu mekanisme ampuh yang mampu mengarahkan perrubahan.
4. Teori Hegemoni Media
Istilah hegemoni dipinjam dari Gramsci (1971) untuk menyebut ideologi penguasa. Teori ini kurang memusatkan perhatian pada faktor ekonomi dan struktur ideologi yang mengunggulkan kelas tertentu, tetapi lebih menekankan ideologi itu sendiri, bentuk ekspresi, cara penerapan, dan mekanisme yang dijalankan untuk mempertahankan dan mengembangkan diri melalui kepatuhan para korbannya (terutama kelas pekerja).
5. Teori Sosial-budaya
Pendekatan budaya atau ‘sosial-budaya’ berpengaruh dalam studi media massa, pendekatan ini berupaya mendalami pesan dan publik melalui pemahaman pengalaman sosial berbagai kelompok kecil masyarakat secara cermat, kritis dan terarah, dengan tujuan agar dapat memberikan penjelasan menyangkut pola pilihan dan reaksi terhadap media
6. Pendekatan fungsionalis struktural
Sebuah teori sosiologi yang menjelaskan berbagai kegiatan yang melembaga (institutionalized) dalam kaitannya dengan ‘kebutuhan’ masyarakat. Merton, 1957. kebutuhan yang dimaksudkan, bila dihubungkan dengan institusi media, terutama berkenaan dengan kesinambungan, ketertiban, integrasi, motivasi, pengarahan (bimbingan) dan adaptasi.
Pembahasan teori ini meliputi:
a. Fungsi utama media massa bagi masyarakat
b. Fungsionalisme individual
c. Fungsi dan disfungsi
PERTEMUAN 3
Penerapan Teori Media: Kekuasaan, Integrasi Dan Perubahan Sosial
Aspek Utama Masyarakat
1. Kekuasaan
2. Integrasi
3. Perubahan
A. MASALAH KEKUASAAN
Menurut Denis McQuail, karena media bergerak dalam masyarakat yang ditandai oleh adanya penyebar kekuasaan, yang diberikan kepada individu, kelompok dan kelas sosial secara tidak merata, dan karena dalam beberapa hal media berkaitan dengan struktur politik dan ekonomi yang berlaku, maka ada beberapa masalah yang perlu disinggung menyangkut keberradaanya. Antara lain:
1. Media memiliki konsekuensi dan nilai ekonomi, serta merupakan objek persaingan untuk memperebutkan kontrol dan akses. Disamping itu media juga tidak terlepas dari peraturan poliitik, ekonomi, dan hukum.
2. Media massa sering kali dipandang sebagai alat kekuasaan yang efektif karena kemampuannya untuk melakukan salah satu (atau lebih) dan beberapa hal, sebagai berikut:
a. Menarik dan mengarahkan perhatian
b. Membujuk pendapat dan anggapan
c. Mempengaruhi pilihan sikap
d. Memberikan status dan legitimasi
e. Mendefinisikan dan membentuk persepsi realitas
Dari pernyataan diatas maka muncul pertanyaan:
Siapa yang mengendalikan media?
Siapa yang memiliki akses thp media?
Realitas sosial siapa yang disajikan?
Sejauh mana efektivitas media?
Faktor-faktor kekuasaan apa?
I. Teori Masyarakat Massa dan Kekuasaan
Teori ini memberikan gambaran mengenai keberadaan dan kadar kekuasaan media dalam masyarakat yang ditandai oleh luasnya jangkauan, keterpencilan institusi, isolasi individu, dan kurangnya integrasi kelompok setempat. Kenyataan ini menunjukan bahwa
“media dapat dikendalikan atau dikelola secara monopolistik untuk dijadikan sebagai alat utama yang efektif dalam mengorganisassi massa (kelompok khalayak, konsummen, pasar, dan pemilih)”
Media massa biasanya merupakan corong penguasa, pemberi pendapat dan intruksi, serta kepuasan jiwa. Media bukan saja membentuk dependensi warga masyarakat terhadap media dalam hal penciptaan pendapat, tetapi juga dalam hal penciptaan identitas dan kesadaran. Menurut C.W Mills (1956) potensi yang diciptakan media diarahkan untuk pengendalian nondemokratis yang berasal dari atas.
II. Teori Marxis dan Kekuasaan
Marxis dan interpretasi Marxis tentang -media selalu menekankan kenyataan bahwa media massa pada hakikatnya merupakan alat kontrol kelas penguasa kapitalis.----- Media komunikassi (misal: surat kabar) cenderung dimiliki oleh para anggota kelas berada yang diharapkan mampu untuk menjalankan media tersebut demi kepentingan kelasnya. Artinya, terdapat hubungan langsung antara pemilikkan kekuatan ekonomi dengan penyebaran pesan yang menegaskan legitimasi kekuatan ekonnomi dan niali-nilai suatu kelas dalam masyarakat.
Louis Althusser (1971) menyebut sebagai proses yang dijalankan oleh Aparat Represif Negara (Represive state Apparatuses). Aparat ideologi negara tersebut memungkinkan negara kaapitalis mempertahankan keberadaanya tanpa memalukan kekerasan secara langsung. Konsep hegemoni Gramsci (1971) mengandung pengertian suatu kebudayaan atau ideologi yang berlaku dimana-mana dan secara internal bersifat kosisten, serta sesuai dengan kepentingan kelas dominan atau kelas elit.
Mercuse (1964) menilai media beserta segenap unsur sistem produksi masalnya, terlibat dalam ‘penjualan’ dan pemaksaan segenap aspek sistem sosial yang pada waaktu bersamaan bersifat represif, tetapi dapat disenangi orang. Sumbangsih utama media berwujud perangsangan ‘kebutuhan semu’ dan pemberian kepuasan terhadap kebutuhan tersebut, yang mengarah keterciptaannya assimilasi berbagai kelompok yang tidak memiliki persamaan kepentingan material nyata, demi terwujudnya ‘masyarakat berdimensi tunggal’.
III. Teori Fungsionalisme Struktural dan Kekuasaan
Karena sarana komunikasi massa terdapat dalam semua masyarakat modern yang kompleks, maka saarana tersebut dinilai memainkan peranan penting dalam proses penyuluhan dan kontrol sosial.
Teori dependensi media yang pada dasarnya bernada fungsinalis diformulassikan oleh Ball Rokeach dan DeFleur (1976) menyebutkan dependensi relatif (relative dependence) khalayak terhadap sumber media massa (dibandingkan sumber informasi lain) merupakan variabel yang harus ditentukan secara empiris.
IV. Model Alternatif Hubungan Kekuasaan Media
Aliran pluralis (Gurevich- 1982) memandang masyarakat sebagai suatu arena persaaingan kelompok dan kepentingan; tidak ada satu pun kelompok yang dapat memiliki dominasi untuk selama-lamanya. Model ini menekankan kapasitas publik yang beraneka ragam untuk menyatakan kehendaknya yang berbeda, menolak persuasi, memberi reaksi, dan memanfaatkan media. Media pun lebih tanggap terhadap kepentingan publik.
Model Pluralis
Model pluralis menekankan lebih dari satu persepsi tentang media dan beberapa perangkat nilai, antara lain:
1. Model ini dapat memainkan nilai. Model ini dapat mencerminkan cita-cita kebebasan, yang mengehndaki tidak adanya kontrol, kecuali tangan pasar yang bersembunyi yang pada mulanya bekerja untuk meningkatkan pemenuhan kebutuhan dan kepentingan seluruh masyarakat.
2. Mencerminkan tanggung jawab sosial (media dalam sistem demokrasi liberal). Dalam sistem tersebut institusi media cenderung dan didorong untuk memenuhi kebutuhan berbagai kelompok yang saling bersaing, juga untuk memmenuhi keinginan publik sesuai batas kewenangan profesional media.
3. Menekankan voluntarisme dan indenpendensi khalayak dengan konsep ‘media emansipasi’. Konsep emansipasi media (Enzensberger 1970) untuk mendorong interaksi, self expression, self realization, peningkatan kesadaran kelompok atau masyarakat dan self moblilization.
B. MASALAH INTEGRASI
Komunikasi massa seringkali dikatakan individualistis, interpersonal, dan anomis. Oleh karena itu komunikasi massa sangat menunjang punahnya kontrol sosial dan solideritas. Pandangan alternatif menyangkut hubungan media massa dengan integrasi sosial dilandasi kemampunnya untuk menyatukan para individu terpisah-pisah menjadi satu kesatuan khalayak besar dan para pendatang baru menjadi bagian urban, serta kemampuannya untuk menyajikan seperangkat nilai, ide, informasi, dan persepsi yang sama kepada setiap orang.
McCormack (1961) menyatakan fungsi yang diperankan media di negara-negara modern adalah untuk melakukan itegrasi dan sosialisasi. Isi media bukan saja sekedar informasi, tetapi juga menyajikan hiburan dan kesenangan yang mempu menciptakan rasa kebersamaan.
a. Teori Masyarakat Massa dan Integrasi
Teori masyarakat massa berpangkal dari pandangan bahwa para anggota masyarakat tidak terintegrasi. Menurut Korhouser (1986) sebenarnya banyak anggota masyarakat yang tidak diorganisasi secara baik dan tidak pula berperan serta seepenuhnya, menghendaki adanya upaya para pemimpin untuk memobilisasi dan mengorganisasi mereka. Meyrowitz (1985) menyatakan bahwa media telah ikut bertanggungjawab atas hilangnya rasa keterikatan dengan tenpat (sense of place) dalam mmasyarakat modern dan punahnya beberapa unsur penguat identitas.
Media massa dalam teori ini berperan dalam menyediakan pengganti unsur-unsur di atas yang telah hilang.
b. Teori Marxis dan Integrasi
Teori ini memandang integrasi dalam masyarakat kapitalis yang terpecah oleh konflik kepentingan kelas. Integrasi dapat berarti pemaksaan konsensus ideologi (kesadaran palsu), mekanisme kontrol sosial yang menguntungkan kelas penguasa, atau berarti kohensi ideologis yang diterima oleh kelompok oposisi agar dapat melakukan perubahan. Biasanya perrubahan tersebut memerlukan adanya pemilikan media independen.
c. Teori Fungsioanalisme Struktural dan Integrasi
Teori ini berpendangan aksiomatik yang menyatakan bahwa kondisi integrasi merupakan syarat mutlak bag kelancaran (keberlangsungan) setiap sistem sosial. Baik integrasi fungsioanl maupun normatif.
Dalam organisasi media terdapat penekanan yang diterapkan baik secara langsung, maupun secara formal untuk memperoleh kepastian adanya kepatuhan para karyawan terhadap kebijakan dan kebiasaan organisasi ynag bersangkutan. Kohensi dan loyalitas dalam institusi media cenderung membantu proses integrasi kedalam masyarakat serta menunjang terciptanya efek kontrol sosial dan kohensi yang lebih besar. Gans (1979) media besar seringkali mengambil inisiatif sendiri untuk menyatakan apa yang dianggapnya sebagai nilai-nilai dominan dalam masyarakatnya.
C. KOMUNIKASI MASSA DAN PERUBAHAN SOSIAL
Secara historisitas hubungan antara timbulnya komunikasi massa dan perubahan lain dalam masyarakat, melibatkan:
1. Tipologi hubungan budaya-masyarakat (Rosengren-1981)
2. Interpendensi (ketergantungan)
3. Idealisme
- Perubahan nilai individu.
- Media sebagai ‘motor perubahan’
- Determinisme teknologi (medium)
- Teori Pengembangan (cultivation theory) menekankan pada “dampak”.
- Imprealisme budaya
4. Pendekatan materialis
5. Otonomi
PERTEMUAN 4
Enam Ragam Teori Normatif Tentang Struktur Dan Penampilan Media
ENAM RAGAM TEORI NORMATIF STRUKTUR DAN PENAMPILAN MEDIA
Isi media mendapat tekanan dari kekuatan sosial-politik stempat dan tuntutan untuk memenuhi harapan khalayak. Media mencerminkan, menyajikan dan berperanserta secara aktif untuk memenuhi kepentingan nasional yang ditentukan oleh para aktor dan institusi lain yang lebih kuat. Gambaran media sebagai institusi mediasi, yang menghubungkan para anggota masyarakat biasa dengan peristiwa dunia yang sulit dijangkau dan penguasa, merupakan ide yang mengandung konsep hubungan yang terjadi karena arus informasi yang kontinu.
Berikut enam ragam teori normatif
1. Teori otoriter
2. Teori pers bebas
3. Teori tanggung jawab sosial
4. Teori media soviet
5. Teori media pembangunan
6. Teori media demokratik-pertisipan
1. Teori Otoriter
Istilah ini diberikan oleh Siebert, teori ini mengidentifikasi pengaturan pers tentang kapan dan di mana pers mulai dalam masyarakat, untuk hampir semua bagian monarki di mana pers tunduk pada kekuasaan negara dan kepentingan kelas penguasa.
Teori otoriter membenarkan adanya sensor pendahuluan dan hukuman atas penyimpangan dari pedoman yang ditetapkan secara eksternal yang khususnya cenderung berlaku bagi hal-hal yang bersifat politis atau segala sesuatu yang memiliki implikasi ideologi yang jelas.
Bentuk pengungkapan teori otoriter melalui:
a. Peraturan perundang-undangan
b. Pengendalian produksi secara langsung oleh pemerintah negara.
c. Kode etik yang dapat diberlakukan.
d. Pajak dan jenis sanksi ekonomi lainnya.
e. Pengendalian impor media mancanegara.
f. Hak pemerintah untuk mengangkat staf redaksi
2. Teori Pers Bebas
Teori sederhana ini merupakan teori yang berisi atau menimbulkan ketidakonsistenan mendasar. Dalam bentuk yang paling dasar teori ini hanya menyatakan bahwa seseorang seyogyanya bebas mengungkapkan hal-hal yang disukainya dan karenanya merupakan peluasan hak-hak lainnya, yaitu hak untuk berpendapat secara bebas dan hak untuk mengungkapkan pendapat itu, serta hak untuk bergabung dan berserikat dengan yang lain.
Dengan demikian prinsip dan nilai-nilai yang mendasarinya identik dengan prinsip dan nilai-nilai negara demokrasi liberal, yaitu keyakinan akan keunggulan individu, akal sehat, kebenaran dan kemajuan, dan akhirnya, kedaulatan kehendak rakyat.
Pers bebas dipandang sebagai komponen yang penting dari masyarakat bebas dan rasional. Gagasan tentang pers bebas dapat diungkapkan dalam beberapa prinsip:
a. Publikasi seyogyanya bebas dari setiap penyensoran pendahuluan oleh pihak ketiga.
b. Tindakan penerbitan tanpa memerlukan izin dan lisensi
c. Kecaman terhadap pemerintah, pejabat, atau partai politik seyogyanya tidak dapat dipidana.
d. Publikasi kesalahan dilindungi sama halnya dengan publikasi kebenaran.
e. Tidak ada batasan hukum yang diberlakukan terhadap upaya pengumpulan informasi untuk kepentingan publikasi.
f. Wartawan seyogyanya mampu menuntut otonomi profesional yang sangat tinggi di dalam organisasi mereka.
3. Teori Tanggung Jawab Sosial
Menurut Hutchins (1947) teori ini berasal dari inisiatif orang Amerika – Komisi Kebebasan Pers (Commossion on freedom of the press. Teori ini menggabungkan prinsip:
a. Prinsip kebebasan dan pilihan individual
b. Prinsip kebebasan media
c. Prinsip kewajiban media terhadap masyarakat
Teori tanggung jawab sosial memiliki dua bentuk penanggulangan:
1) Pengembangan lembaga publik, tetapi mandiri, untuk mengelola siaran, pada gilirannya sangat berpengaruh untuk meningkatkan cakupan kekuatan politis dari konsep tanggung jawab sosial.
2) Pengembangan profesionalisme lebih sebagai sarana untuk mencapai standar prestasi tinggi, pada saat yang sama mempertahankan pengaturan oleh media.
4. Teori Media Soviet
Pers Rusia dan media lain direorganisasi sepenuhnya setelah revolusi 1917. gagasan teori ini:
a. Kelas pekerja berdasarkan definisi memegang kekuasaan dalam masyarakat sosialis, untuk tetap berkuasa, semua media harus tunduk pada pengendalian kelas pekerja-terutama Partai Komunis.
b. Masyarakat sosialis adalah, atau diharapkan menajdi masyarakatkelas dan karenanya tidak mengandung konflik kelas, sehingga pers seyogyanya tidak distruktur sejalan dengan konflik politik.
c. Pers memainkan peran positif dalam pembentukan masyarakat dan gerakan kearah komunisme dan hal ini menunjukan sejumlah fungsi yang penting bagi media dan sosialisasi, pengendalian sosial informal, dan mobilisasi untuk mencapai tujuan sosial dan ekonomi yang terrencana.
d. Marxsisme mensyaratkan hukum sejarah objektif dan karenanya pers harus mencerminkan realitas objektif. Hal ini mengunrangi cakupan penafsiran pribadi dan menyediakan seperangkat nilai berita yang berbeda dari nilai yang dianut sistem pers liberal.
Kesimpulan teori media soviet adalah:
a. Media seharusnya melayani kepentingan dari, dan berada di bawah pengendalian, kelas pekerja.
b. Media seharusnya tidak dimiliki secara pribadi
c. Media harus melakukan fungsi positif bagi masyarakat dengan; sosialisasi terhadap norma yang diinginkan, pendidikkan, informasi, motivasi dan mobilisasi.
d. Tugas media dalam masyarakat, media harus tanggap terhadap keinginan dan kebutuhan audiens.
e. Masyarakat berhak melakukan sensor dan tindakan hukum lainnya untuk mencegah, atau menghukum setelah terjadinya peristiwa, publikasi anti-masyarakat.
f. Media perlu menyediakan pendangan yang purna (complete) dan objektif tentang masyarakat dan dunia, dalam batas prinsip marxisme-leninisme.
g. Wartawan adalah ahli yang bertanggungjawab yang tujuan dan cita-citanya seharusnya serupa dengan kepentingan terbaik masyarakat.
h. Media hendaknya mendukun gerakan progresif di dalam dan di luar negeri
5. Teori Media Pembangunan
Teori pembangunan tentang media massa ialah adanya fakta beberapa kondisi umum negara berkembang yang membatasi aplikasi teori lain atau mengurangi kemungkinan maslhatanya. Beberapa kondisi yang diperlukan bagi pengembangan komunikasi massa:
a. Infrastruktur komunikasi
b. Keterampilan profesional
c. Sumber daya produksi dan budaya
d. Audiens yang tersedia.
Prinsip utama teori ini adalah:
a. Media seharusnya menerima dan melaksanakan tugas pembangunan positif sejalan dengan kebijaksanaan yang ditetapkan secara nasional
b. Kebebasan media seharusnya dibatasi sesuai dengan (1) perioritas ekonomi dan (2) kebutuhan pembangunan masyarakat.
c. Media hendaknya memprioritaskan berita dan informasinya pada negara berkembang lainnya yang erat kaitannya secara geografis, kebudayaan, atau politik.
d. Para wartawan dan karyawan media lainnya memiliki tanggung jawab serta kebebasan dalam tugas mengumpulkan informasi dan penyebarluasannya
e. Begi kepentingan tujuan pembangunan, negara memiliki hak untuk campur tangan dalam, atau membatasi, pengoperasian media serta sarana penyensoran, subsidi, dan pengendalian langsung dapat dibenarkan.
Rumusan prinsip teori ini adalah sebagai berikut:
a. Warga negara sebagai individu dan kelompok minoritas memiliki hak pemanfaatan media (hak untuk berkomunikasi) dan hak untuk ddilayani oleh media sesuai dengan kebutuhan yang mereka tentukan sendiri.
b. Organisasi dan isi media seharusnya tidak tunduk pada pengendalian politik yang dipusatkan atau pengendalian birokrasi negara.
c. Media seharusnya ada terutama untuk audiensnya dan bukan untuk organisasi media, para ahli atau nasabah media tersebut.
d. Kelompok organisasi, dan masyarakat lokal seyogyanya memiliki media sendiri
e. Bentuk media yang berskala kecil, interaktif dan partisipatif lebih baik ketimbang media berskala besar, satu arah, dan diprofesionalkan.
f. Kebutuhan sosial tertentu yang berhubungan dengan media massa tidak cukup hanya diungkapkan melalui tuntutan konsumen perorangan, tidak juga melalui negara dan berbagai lembaga utamanya.
g. Komunikasi terlalu penting untuk diabaikan oleh para ahli.
Kriteria Penilaian Penampilan Media
1. Kebebasan dan Interpendensi
2. Keterlibatan dan solideritas
3. Keanekaragaman dan akses
4. Objektivitas dan kualitas informasi
5. Kualitas budaya
PERTEMUAN 5
Produksi Budaya Media; Isntitusi, Organisasi dan Peran Media, Isi media
A. Kontek Produksi Budaya Media
Komponen utama permaslahan produksi media ialah membicarakan sejumlah kegiatan yang menyajikan apa yang dilakukan oleh para komunikator massa dalam organisasi media dan institusi yang lebih luas. Isntitusi media cenderung mengemban semangat teori pers normatif, serta menciptakan aturan permainan yang menyangkut fungsi dan tujuan dalam masyarakat, perbedaan antarmedia, lingkup kegiatan media dan hubungannya dengan institusi lain (politik, pendidikan, agama, sosial, budaya dan lain-lain) serta kebebasan media untuk membentuk publiknya. Sementara organisasi media merupakan latar (setting) memiliki sistem manajemen. Konsep organisasi media sering ditata ulang sesuai dengan kebutuhan disebabkan adanya amalgamasi (integrasi) ke dalam multimedia atau kelompok multinasional.
Istilah komunikator massa dikenal sejak 1939 yang mengacu kepada orang yang bekerja pada media, sedang pandangan tentang peran khusus yang dijalankan oleh orang yang mengontrol atau menguasi saluran komunikasi massa dikenal sejak lama.
Dimmick dan Coit (1982) mengidentifikasikan jenjang penerapan pengaruh kekuasaan analisis untuk memahami produksi media, diantaranya
1. Supranasional (badan atau perusahaan internasional)
2. Masyarakat (pemerintahan)
3. Industri (perusahaan media; perusahaan iklan)
4. Supraorganisasi (jaringan atau kelompok)
5. Komunitas (kota kecil, masyarakat lokal, kelompok usaha niaga)
6. Kelompok intraorganisasi (baik formal atau nonformal)
B. Keanekaragaman Internal Institusi Media
Ragam utama definisi media institusi adalah:
1. Tipe Media (standar media-media)
2. Skala dan jangkauan operasi (nasional, internasioanal, lokal)
3. Kewajiban kerja atau fungsi (produksi)
4. Bentuk kepemilikan, pengendalian atau manajemen
C. Hubungan dengan Masyarakat
1. Sasaran organisasi media
2. Pemihakan atau netralitas media
3. Ciri-ciri komunikator massa
4. Akses
D.Hubungan dengan Klien, Pemilik dan Pemasok (supplier)
Beberapa faktornya antara lain:
1. Sumber dana (tujuan mencari untung, profesionalitas)
2. Tujuan para profesional
3. Media seperti perusahaan
4. Media berorientasi pasar
5. Media publik
E. Hubungan dengan Sumber
Konsep media sebagai ‘penjaga pintu gerbang’ (White) untuk menggambarkan perusahaan surat kabar yang memilih sejumalh kecil bahan berita. Pola penyeleksian sumber diidentifikasikan:
1. Memilih pengarang (seniman) untuk menentukan publikasi karya.
2. Kontak kesinambungan orang ‘dalam’
3. Pengamatan langsung (sumber berita)
4. Memanfaatkan pelayanan badan pemasok berita
F. Hubungan Internal Organisasi Media
Orientasi dasar pembagian media secara internal sebagai berikut:
1. Ditujukan pada sasaran efisiensi dan keberhasilan dalam bidang ekonomi yang ditargetkan oleh manajer.
2. Ditujukan pada sasaran profesional yang ditetapkan oleh penilaian para ahli dan teman sejawat
3. Ditujukan pada masyarakat luar yang dipengaruhi oleh berita, pendapat dan seni kreatif.
4. Ditujukan pada kemashuran dan keberhasilan bersama publik tertentu
G. Hubungan dengan Audiens
Para pelaksana media cenderung menunjukan ‘autism” yang tinggi (keasyikan menilai diri sendiri) yang sangat bergantung pada pengentahuan mereka (profesional) dari pada pengentahuan klien.
H. Kegiatan Organisasi media: Penjaga Gerbang (getkeeper)
1. Penjagaan gerbang
2. Tokoh dan seleksi
3. Lokasi dan seleksi
4. Waktu dan seleksi
5. Faktor lain dan media lainnya
I. Kegiatan Organisasi Media: Mekanisme Proses dan Penyajian
Walaupun komunikasi massa merupakan salah satu bentuk produksi massal, tetapi standarisasinya berkaitan dengan reproduksi dan distribusi yang dilakuakan berkali-kali. Ragam isi atau ide yang bermacam-macam dan unik disesuaikan dengan bentuk yang tidak asing bagi produsen media dan diaanggap akrab dengan khalayak (spessipiksi yang ditentukan oleh organisasi).
Tinjauan terhadap mekanisme dalam dunia media massa yang bercirikan komersial-industrial menurut Ryan dan Peterson (1982) menyajikan lima kerangka proses pengambilan keputusan dalam seni media (terutama industri musik)
1. Model lini perakitan (assembly line)
2. Model keterampilan dan kewiraswastaan (craft and enterpreneurship)
3. Model konvensi dan formula (convention and formula)
4. Model citra khalayak dan konflik (audinence image and conflict)
5. Model citra produk (product image)
Isi Media
A. Tujuan Analisis Isi
1. Isi seperti yang dikirim dan diterima
2. Pelacakan dampak
3. Isi sebagai bukti komunikator
4. Isi media sebagai bukti masyarakat dan budaya
5. Penilaian media dan organisasinya
6. Studi isi demi isi itu sendiri
7. Konflik dan ketidakkonsistenan tujuan
B. Modus Pembahasan dan Metode Analisis
1. Analisis isi tradisional
2. Strukturalisme dan semiologi
C. Varian dan Kemungkinan lain
Berelsonian (Barthian) mengkombinasikan kedua pendekatan di atas. Prinsipnya setiap upaya sistematis untuk mencirikan dan mengidentifikasikan kekhasan tubuh isi dapat berinklusi di dalam jajaran pendekatan yang telah diidentifikasikan antara kategorisasi nyata dan evaluasi kritis atau moral.
D. Isi Media dan Realitas Sosial
1. Tema yang mempersatukan
2. Teori tentang Penyimpangan realitas
a. teori fungsional
b. teori hegemoni
c. teori organisasi
E. Aliran Berita
1. Pemusatan berita
2. Pengertian berita
3. Berita dan kepentingan manusiawi
4. Nilai dan struktur berita
5. Bentuk dan laporan berita
PERTEMUAN 6
Audiens Media dan Proses Dampak Media Massa
A. Audiens Media
Istilah ‘audiens media’ berlaku universal dan secara sederhana dapat diartikan sebagai sekumpulan orang yang menjadi pembaca, pendengar, pemirsa berbagai media atau komponen isinya. Dengan demikian, penggemar dari para penulis, kelompok musik, atau serial televisi (sinetron, opera sabun) tertentu merupakan audiens, tetapi audiens yang tidak mudah dilokasikan menurut waktu atau tempat mungkin tidak memiliki eksistensi sebagai kelompok sosial.
B. Timbulnya Audiens
1. Mulanya ‘audiens’ adalah perkumpulan penonton drama, permainan dan tontonan, yaitu penonton ‘pertunjukan’.
2. Audiens adalah pertemuan publik, berlangsung dalam waktu rentang tertentu, dan terhimpun bersama oleh tindakan individual untuk memilih secara sukarela sesuai dengan harapan tertentu bagai maslahat menikamati, mengagumi, mempelajari, merasa gembira, tegang, kasihan atau lega.
3. Gagasan audiens menyusul penemuan percetakan dan perkembangan publik pembaca (reading public) yaitu mereka yang benar-benar ikut serta dalam bacaan pribadi dan menyediakan pengikut bagi penulis dan aliran tertentu (termasuk surat kabar).
C. Konsep Alternatif tentang Audiens
1. Audiens sebagai kumpulan (penonton, pembaca, pendengar, pemirsa)
2. Audiens sebagai massa
3. Audiens sebagai publik atau kelompok sosial
4. Audiens sebagai pasar
D. Tipologi Formasi Audiens
1. Kelompok atau publik
2. Kelompok kepuasan
3. Kelompok penggemar (budaya cita rasa)
4. Audiens medium
E. Karakter Sosial Pengalaman Audiens
1. Kandungan kelompok dalam audiens
2. Diferensiasi sosial
F. Interkasi Sosial (Audiens)
1. Pergaulan sosial
2. Penggunaan sosial
3. Isolasi sosial
4. Hubungan audiens dengan pengirim
5. Pengendalian normatif
6. Seberapa aktif pengalaman audiens
G. Teori Komposisi Audiens
1. Sejarah kelembagaan audiens
2. Manajemen pasar
3. Memberikan hal-hal yang diinginkan audiens
4. Perbedaan sumber kesenangan
5. Teori fungsional
6. Penjelasan sosial budaya
H. Pengaruh Audiens atas Isi
1. Kritik dan penggemar
2. Pertanggungjawaban yang dilembagakan
3. Pasar
4. Balikan langsung (surat kepada redaksi)
5. Pemanfaatan citra audiens’
6. penelitian
Proses Dampak Media Massa
A. Sejarah Penelitian dan Teori Dampak Media
Perkembangan ini ditentukan oleh suasana waktu dan tempat serta dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan, yaitu:
1. Kepentingan pemerintah dan pembuat undang-undang
2. Kebutuhan industri
3. Aktivitas berbagai kelompok penekan (pressure groups)
4. Tujuan propaganda dan komersial
5. Tekanan opini publik pada saat bersangkutan
6. Model-model ilmu sosial
B. Tahap sejarahnya:
1. Tahun 1930-an media berpengaruh membentuk opini dan keyakinan, mengubah kebiasaan hidup.
2. Penggunaan film dan media lain (1960-an) untuk keperluan persuasi aktif atau penyebaran informasi atau untuk menilai, dengan tujuan pencegahan, dampak yang merusak dalam kaiatannya dengan pelanggaran hukum, prasangka, agresi, rangsangan seksual.
3. Penelitian dampak ke arah (dewasa ini):
a. perubahan jangka panjang
b. kognisis, sikap dan afeksi
c. peran yang dimainkan oleh isi
d. disposisi dan motivasi
e. gejala kolektif seperti iklim opini
f. struktur keyakinan
g. ideologi
h. pola budaya
i. bentuk-bentuk kelembagaan
C. Tingkat dan Jenis Dampak
Klapper (1960) membedakan menjadi:
1. Konversi (maksud komunikator)
2. Perubahan kecil (perubahan bentuk ataau intensitas penegasan oleh penerima
3. Penguatan (keyakinan opini sendiri)
D. Proses Dampak Media (tipologi)
1. Penentuan realitas
2. Tanggapan individu
3. Kampanye media
4. Reaksi individu
5. Reaksi kolektif
6. Penyebaran dalam pembangunan
7. Distrubusi pengetahuan
8. Sosialisasi
9. Pengendalian sosial
10. Perubahan lembaga
E. Rangsangan Individu dan Reaksi Individu
Model S-R (Stimulus-Respon/Rangsangan-reaksi)
Pesan Tunggal ------- Penerima Individu ----Reaksi
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam model S-R
1. Kondisi yang menegahi
2. Hubungan sumber-penerima
3. Reaksi yang tidak diinginkan
F. Kampanye
Kampanye seringkai menyangkut soal pengarahan, pemerkuatan, dan penggerakan kecenderungan yang ada ke arah tujuan yang diperkenankan secara sosial seperti pemungutan suara, pembelian barang-barang, pengumpulan dana peningkatan kesehatan dan keselamatan, dan sebagainya.
G. Difusi dalam Konteks Pembangunan
Everett Rogers (1962) dan Scoemaker (1973) memberikan model difusi informasinya menggambarkan empat tahap:
1. Informasi
2. Persuasi
3. Keputusan atau penerimaan
4. konfirmasi
H. Distribusi Pengetahuan
1. Difusi berita
2. Pengaturan agenda
3. Kesenjangan pengetahuan
I. Penentuan Realitas
1. Spiral kebisuan (pembentukan opini)
2. Menata realitas (bias yang tidak disadari)
3. Teori pengolahan
Selain diatas terdapat pendekatan lainnya, antara lain:
1. Pengendalian sosial dan pembentukan kesadaran
2. Dampak terhadap lembaga sosial lainnya
3. Hasil akibat suatu peristiwa
TIGA (Dampak dan Penelitian) ASPEK KOMUNIKASI TERAPAN
A. Berita
1. Ciri-ciri utama, kategori berita merupakan kategori terbesar dalam sajian media.
2. Apakah berita efektif?
3. Efek macam apa yang ditimbulkannya?
4. Mekanisme efek apa yang ditimbulkannya?
5. Bahan pertimbangan untuk kebijakan?
B. Iklan dan hubungan Masyarakat
1. Ciri utama (kepentingan pengirim bukan penerima)
2. Apakah iklan itu efektif?
3. Efek macam apa yang ditimbulkannya?
4. Mekanisme efek yang ditimbulkannya?
C. Kampanye Informasi Publik
1. Ciri utama (dirancang demi kepentingan penerima, bukan pengirim)
2. Apakah kampanye informasi publik itu efektif?
3. Efek macam apa yang ditimbulkannya?
4. Mekanisme efek apa yang ditimbulkan?
5. Bahan pertimbangan
Langganan:
Postingan (Atom)
